Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 21 Juni 2018 | 15:24 WIB
 

PLTA Batangtoru Solusi Pemanasan Global

Oleh : - | Kamis, 17 Mei 2018 | 03:29 WIB
PLTA Batangtoru Solusi Pemanasan Global
PLTA Batangtoru - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pemanasan global menjadi polemik serius di berbagai belahan dunia. Hal ini membuat pemerintah Indonesia mencanangkan target 23% energi baru terbarukan (EBT) pada 2025.

Dan, PLTA Batangtoru yang akan dibangun dan diperkirakan rampung 2022, merupakan solusi pemanasan global. Diyakini, PLTA ini mampu mengurangi emisi karbon sebanyak 1,6 Megaton CO2 saat beroperasi.

Dalam konteks global, pembangunan PLTA Batangtoru akan mengakomodasi agenda internasional yang tertuang dalam kriteria Sustainble Development Goals (SDGs) sesuai ketetapan PBB tahun 2015.

Di mana, PLTA Batangtoru yang dikembangkan dan dirancang dengan daya terpasang 510 MW yang berasal dari Kolam Harian berukuran kecil seluas 90 hektar telah memenuhi sejumlah persyaratan pemerintah Indonesia seperti perizinan terkait analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), analisa risiko lingkungan, aspek-aspek sosial dan lingkungan hidup serta perizinan lain terkait lingkungan dan pembangunan.

Demikian dikemukakan Agus Supriono, Manajer Humas PT North Sumatra Hydro Energi (NSHE) yang merupakan pemilik PLTA Batangtoru dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Agus mengungkapkan, PLTA Batangtoru dibangun pada Area Penggunaan Lain (APL) dan secara hukum bukan merupakan kawasan hutan. APL Batangtoru merupakan kawasan yang dicadangkan dan dialokasikan pemerintah provinsi Sumut dan mendapatan persetujuan Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.

"Kami sangat memahami hutan merupakan bagian penting untuk menjaga suhu bumi agar tidak naik. Untuk itu, kami tidak akan pernah mengorbankan hutan apalagi hutan primer dan kawasan konservasi serta merusak keanekaragaman hayati dalam pembangunan PLTA. Hal ini sudah menjadi komitmen kami sejak awal," kata Agus.

Sebaliknya, hutan yang terjaga justru menjadi bagian penting dari program pembangunan PLTA Batangtoru untuk menjamin ketersediaan air sebagai bahan baku utama. "Jika hutan rusak akan berpengaruh pada ketersediaan pasokan air penggerak turbin," kata Agus.

Selain mempertahankan kawasan hutan yang ada di sekitar konsesi PLTA, menurut Agus, pihaknya akan menanam bibit pohon dan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat.

Dia menambahkan, sejalan dengan tuntutan global tentang perlunya menjaga keseimbangan lingkungan untuk masa depan bumi yang lebih baik, pihaknya akan mengimplementasikan teknologi ramah lingkungan dalam pembangunan PLTA.

"Dengan teknologi yang terus berkembang saat ini dimungkinkan untuk membangun PLTA dengan genangan pada kolam harian berukuran kecil terdiri dari 24 ha badan sungai yang sudah ada dan 66 ha tambahan area yang akan menggenangi daerah yang sangat curam dan tidak terdapat pemukiman penduduk ".

Konsep ini dikenal sebagai Run of river Hydropower. Secara sederhana, prinsip kerjanya dilakukan dengan memanfaatkan aliran air sungai tanpa perlu membangun bendungan yang menimbulkan daerah genangan luas.
Karena itu, penggunaan pipa pesat (penstock) menjadi bagian penting untuk mengalirkan energi dalam air dengan memanfaatkan gravitasi dan mempertahankan tekanan air jatuh sebelumnya dialirkan menuju turbin.

"Teknologi teranyar yang terus dikembangkan dan diperbaharui ini, dipakai di banyak negara maju yang memanfaatkan air sebagai sumber penggerak turbin utama," kata Agus. [tar]

Komentar

 
x