Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Oktober 2018 | 22:46 WIB

Harga Naik, Inilah Prediksi Inflasi Mei dari BI

Sabtu, 19 Mei 2018 | 02:29 WIB

Berita Terkait

Harga Naik, Inilah Prediksi Inflasi Mei dari BI
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menyangkut inflasi pada Mei 2018, Bank Indonesia punya perkirakan sebesar 0,22% secara bulanan (month to month/mtm). Kalau secara tahunan year on year (yoy) sebesar 3,24%.

Perkiraan itu berdasarkan hasil survei pemantauan harga hingga pekan ketiga Mei 2018 oleh BI yang disampaikan Gubernur BI, Agus Martowardojo di Jakarta, Jumat (18/5/2018).

"Saat Ramadan memang ada beberapa harga meningkat, seperti daging ayam, varietas bawang. Namun inflasi terjaga, tadi survei minggu ketiga sebesar 0,22 persen dan secara tahunan itu adalah 3,24 persen," kata Agus.

"Inflasi di pekan ketiga ini masih dalam tingkat rendah, bahkan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang 0,55 persen," tambah Agus yang sebentar lagi lengser dari BI itu.

Bank Sentral, kata Agus, semakin yakin bahwa inflasi 2018 bakal terjaga sesuai target inflasi (inflation targeting framework) di rentang 2,5%-4,5% (yoy). "Beberapa tekanan, sudah mereda," kata Agus.

Tekanan dari kelompok harga barang bergejolak (volatile food), kata Agus, dapat dikendalikan, karena pasokan dan produktivitas yang memadai. Didorong musim panen beberapa waktu lalu. Di mana, pemerintah dan BI ingin menyasar inflasi volatile food di kisaran 4%-5% (yoy) pada 2018.

Kemudian untuk kelompok barang yang diatur pemerintah (administered prices), kata Agus, pemerintah sudah berkomitmen untuk turut menjaga inflasi administered prices, tidak membebani sasaran inflasi.

"Ke depan, inflasi diperkirakan tetap berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5 persen plus minus satu persen. Koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat terutama sebagai antisipasi meningkatnya inflasi volatile food didorong oleh pola musiman bulan Ramadhan dan Lebaran," ujar Agus.

Bank Sentral juga mengestimasi dampak kenaikan inflasi dari depresiasi nilai tukar rupiah. Alhasil, BI merasa perlu untuk menaikkan suku bunga acuan (7-Days Reverse Repo Rate) sebesar 0,25 basis poit, atau naik dari 4,25% menjadi 4,5%. Kebijakan yang berlaku sejak 18 Mei 2018, bertujuan untuk meredam tekanan eksternal yang menggerus nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir. [tar]

Komentar

x