Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 04:03 WIB

Inilah Penyebab Rupiah Masih Melempem

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 21 Mei 2018 | 00:17 WIB
Inilah Penyebab Rupiah Masih Melempem
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Meski Bank Indonesia (BI) telah menaikan suku bunga acuan, namun langkah itu tidak terlalu berpengaruh kepada penguatan Rupiah. Malah Rupiah melemah pada dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, hal itu karena saat investor masih mencermati data ekonomi Global. Yakni, seperti laporan yang diklaim pengangguran dan data manufaktur AS. Hal ini untuk menentukan arah kenaikan bunga acuan Fed rate berikutnya, khususnya bulan Juni mendatang di rapat FOMC.

Disisi yang lain, kata dia, laporan Beige Book yang dirilis Goldman Sachs mengungkap kekhawatiran para investor terkait perang dagang AS China.

"Alhasil sampai siang ini investor asing masih melakukan net sales atau penjualan bersih saham Rp120 miliar," ujar Bhima di Jakarta, Minggu (20/5/2018).

Sedangkan faktor dalam negeri adalah pertumbuhan ekonomi yang stagnan. Dimama neraca perdagangan yang negatif di bulan April dan defisit transaksi berjalan triwulan I mencapai 5,5 miliar usd.

"Secara fundamental sebenarnya ekonomi sedang rapuh," ujar dia.

Menurut dia, faktor global dan domestik ini bisa menentukan fluktuasi nilai tukar rupiah dalam jangka panjang. "Dengan faktor tersebut rupiah diprediksi hanya menguat tipis ke 13.950-14.050 di pekan depan," kata dia.


Gubernur BI Agus Martowardojo menilai ada faktor lain membuat rupiah belum menguat, dari sisi internal dan eksternal. Faktor dalam negeri yang membuat rupiah terdepresiasi adalah defisit neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 sebesar US$1,63 miliar.


"Neraca perdagangan memang defisit, tapi (total) hingga bulan lalu masih surplus sekitar US$1miliar. Ini sudah kami koordinasikan dengan pemerintah dan akan segera ditindaklanjuti," katanya di Bank Indonesia, Jakarta, Jumat pekan lalu.

Demi meningkatkan stabilitas nilai tukar rupiah, kata dia, BI sudah berkoordinasi dengan pemerintah dan telah melakukan berbagai upaya. Ada beberapa upaya yang dilakukan pemerintah, diantaranya dengan rencana meluncurkan sistem perizinan terintegrasi berbasis online atau oneline single submission, insentif pajak (tax allowance dan tax holiday), dan insentif untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). [hid]


Selain neraca perdagangan, ancaman terorisme menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar. "Memang kondisi seperti itu sebetulnya tidak berpengaruh kepada stabilitas. Tapi memang, ada sedikit karena (teror terjadi) beruntun," kata Agus.

Komentar

x