Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 Agustus 2018 | 19:41 WIB

ESDM Klaim Gross Split Ampuh Sedot Investasi Migas

Oleh : - | Senin, 21 Mei 2018 | 03:09 WIB
ESDM Klaim Gross Split Ampuh Sedot Investasi Migas
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimis tren positif di investasi hulu minyak dan gas (migas) terus berlanjut.

Berdasarkan informasi dari Kementerian ESDM di Jakarta, Minggu (20/5/2018), sejak skema Production Sharing Contract (PSC) gross split diterapkan pada 2017, investasi migas tancap gas.

Berangkat dari gejala tersebut, Kementerian ESDM optimis bahwa tren positif di sektor hulu migas ini, bakal terus berlanjut pasca lakunya blok-blok migas yang ditawarkan, baik itu blok baru, maupun blok terminasi.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyebut, pada 2015 dan 2016, tidak satu pun blok migas yang dilelang pemerintah (22 blok), diminati investor.

Kala itu, pemerintah masih menerapkan skema PSC Cost Recovery."Setelah kita ubah jadi gross split di 2017, lima blok migas (dari 10 WK konvensional) yang kita tawarkan laku. Untuk tahun ini sudah ada 4 blok, kita tunggu sampai Juni berapa lagi yang laku, kita optimis akan terus laku, ini sangat positif," ungkap Arcandra.

Selain blok migas baru yang ditawarkan, lanjut Arcandra, tercatat pula 13 blok terminasi yang menggunakan skema gross split dari rentang 2017 hingga kini. Salah satunya adalah blok terminasi Jambi-Merang, dimana nilai investasi komitmen kerja pasti 5 tahun sebesar 239 juta dolar AS, dengan kontraktor Pertamina. "(Komitmen pasti) ini besar sekali. Dan baru terjadi pada tahun ini", kata Arcandra.

Kebijakan lainnya yang dilakukan pemerintah untuk menarik minat investor dan memberikan kemudahan berinvestasi adalah dengan diterbitkannya PP Nomor 53 Tahun 2017 tentang Perlakuan Perpajakan pada Kegiatan Usaha Hulu Migas dengan Kontrak Bagi Hasil Gross Split.

Pria yang akrab disapa Candra ini menjelaskan, terbitnya PP terkait gross split tersebut, Kementerian Keuangan memberikan insentif dalam bentuk tidak membebankan biaya kepada kontraktor dalam kegiatan eksplorasi, dimana indirect tax (pajak tidak langsung) kini digratiskan hingga first oil.

"Pada PP 53 Tahun 2017, Kementerian Keuangan memberikan insentif lagi, indirect tax dibebaskan, bahkan sampai dengan First Oil," imbuh mantan menteri ESDM tersingkat di dunia itu.

Arcandra juga yakin bahwa ke depannya, investasi sektor hulu migas di Indonesia akan semakin bergairah, seiring meningkatnya harga minyak mentah dunia. "Saya optimis akan banyak investor," kata Candra.[tar]

Komentar

x