Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 Juni 2018 | 00:37 WIB
 

Kalla Panggil Bos Bulog, Muluskan Impor Beras?

Oleh : - | Rabu, 23 Mei 2018 | 00:30 WIB
Kalla Panggil Bos Bulog, Muluskan Impor Beras?
(Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba-tiba memanggil Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (22/5/2018). Rupanya, mantan Kepala BNN itu diajari soal perberasan nasional.

"Saya ingin mengetahui dan juga memberikan pengalaman saya sebagai bekas Kabulog. Yang tentunya penting untuk dia (Budi Waseso) untuk mengetahui sebagai Kepala Bulog yang baru," kata Kalla kepada wartawan usai pertemuan.

Kalla mengingatkan Dirut Bulog anyar itu untuk selalu memantau ketersediaan beras, supaya tidak kekurangan. Ssekaligus memastikan kondisi kebutuhan beras di masa mendatang. "Prinsip daripada pangan itu ialah lebih baik lebih daripada kurang stoknya, jangan kurang dari satu juta (ton) nanti pada waktunya. Dan dibuat juga berdasarkan perkiraan, bagaimana bulan yang akan datang, jadi jangan hanya bulan ini karena tidak soal baru panen tapi nanti bagaimana setelah panen," jelas Kalla.

Sementara, Budi Waseso alias Buwas mengatakan, harga beras di awal bulan Ramadan masih normal. Diharapkan akan terus stabil hingga Hari Raya Idul Fitri yang kemungkinan jatuh pada pertengahan Juni ini. "Sekarang masih normal, dan kita terus melakukan operasi pasar untuk memantau setiap wilayah perkembangan beras kita. Jumlah beras di Bulog untuk intervensi pasar cukup memadai karena dari Bulog menyerap beras-beras dari petani berupa gabah dan beras," tutur Buwas.

Jumlah ketersediaan beras di gudang Bulog saat ini kata Budi sebanyak 1,5 juta ton untuk cadangan saja, sementara jumlah beras yang berada di gudang-gudang divisi regional Bulog diperhitungkan mencapai 23,5 juta ton.

Sementara itu, terkait data stok beras yang dimiliki Pemerintah Indonesia saat ini, Kalla menyebut Badan Pusat Statistik (BPS) bakal segera merevisi datanya sebagai dasar untuk menentukan kebijakan kebutuhan beras.

"BPS akan merilis penelitiannya yang baru, segera. (BPS) Sudah sampaikan kepada saya bahwa akan ada data-data yang baru, bahwa selisih beras itu tidak seperti yang selama ini dikemukakan 79 juta ton gabah, tidak benar itu," ujar Kalla.[tar]

Komentar

 
x