Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 Juni 2018 | 04:16 WIB
 

Hari Ini Dilantik

Bola Panas AS untuk Perry Warjiyo

Oleh : - | Kamis, 24 Mei 2018 | 04:09 WIB
Bola Panas AS untuk Perry Warjiyo
Perry Warjiyo resmi menjadi Gubernur Bank Indonesia - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Hari ini (Kamis, 24/5/2018), Perry Warjiyo resmi menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI). Banyak tantangan yang menunggu diselesaikan. Terutama anjloknya nilai tukar rupiah hingga di bawah nilai psikologis Rp14 ribu per US$.

Vokalis Komisi XI DPR Willgo Zainar mengucapkan selamat kepada Perry yang hari ini diambil sumpah di Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta. Namun, jangan senang dulu karena tugas berat menanti.

Yang dimaksud kader Gerindra ini, tentu terkait makin nyungsepnya nilai tukar (kurs) mata uang Garuda. Pada penutupan penutupan perdagangan Rabu (23/5/) berada di level Rp14.200 per USS. Ini angka paling jeblok sejak Oktober 2015.

"Saya ucapkan selamat kepada Pak Perry. Kita tunggu gebrakannya, terkait kurs rupiah yang terus melamah. Apalagi Pak Perry kan jagonya bidang moneter. Sekali lagi, ini masalah serius, jangan sampai krisis 1998 terulang," papar Willgo.

Selanjutnya, kader Gerindra ini memaparkan analisa mantan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid. Bahwa nilai tukar rupiah berpotensi tembus Rp17 ribu per US$. "Fundamental ekonomi kita perlu diperkuat. Kerja sama dan koordinasi tim ekonomi harus makin baik. Jangan sampai analisa dari Bang RR (Rizal Ramli) benar-benar terjadi. Hancur kita," tandas Willgo.

Willgo menegaskan, faktor eksternal terkait rencana bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mengerek suku bunga (Fed Fund Rate) hingga 3 kali di tahun ini, mendorong investor mengalihkan dana dalam jumlah jumbo ke AS.

"Ketika masih Pak Agus, kita ingatkan agar evaluasi suku bunga (BI 7-Days Reserve Repo Rate). Kemudian naik 0.25 persen, enggak nendang. Sekarang kita tunggu apakah Pak Perry mau gunakan cadev (cadangan devisa), itu sama saja menggarami lautan," papar Willgo.

Dalam hal ini, dirinya mengingatkan pemerintah untuk bisa menekan impor dan menggalakkan ekspor. Sekaligus melakukan review terhadap rencana penambahan utang. "Tapi kenyataannya kok malah sebaliknya. Kita impor terus, mulai beras hingga gula mentah. Kok sepertinya menambah masalah bukan menyelesaikan masalah," paparnya.

Selanjutnya Willgo mempertanyakan, neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit. Di mana, neraca perdagangan Januari-April tekor US$1,31 miliar. Sementara neraca transaksi berjalan sepanjang 2018 terjungkal defisit hingga US$23 miliar. Atau setara 2,3% dari Produk Domesti Bruto (PDB).

"Saat ini, seluruh asumsi makro-ekonomi sudah melenceng dari APBN. Belum lagi soal harga minyak yang tren-nya naik. Nah, APBN itu kan undang-undang, sama halnya menabrak aturan negara. Ini masalah serius," kata Willgo.

Belum lagi soal utang yang menurut Willgo, membuat pemerintahan Joko Widodo harus ekstra hati-hati. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, utang jatuh tempo pada tahun ini, mencapai Rp 400 triliun. Atau 10,4% dari total utang sebesar Rp 4.034 triliun. "Ini benar-benar bola panas untuk perekonomian kita," pungkasnya. [ipe]

Komentar

 
Embed Widget

x