Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 21 Oktober 2018 | 01:25 WIB

Cukai Dikerek, Industri Rokok tak Berasap Lagi

Jumat, 25 Mei 2018 | 02:19 WIB

Berita Terkait

Cukai Dikerek, Industri Rokok tak Berasap Lagi
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR Donny Imam Priambodo mengimbau pemerintah jangan kebablasen dalam mematok tarif cukai rokok. Karena menyangkut nasib industri serta ribuan karyawannya.

"Kalau cukai rokok dinaikkan lalu industri gulung tikar, ya, sama saja. Nantinya juga mempengaruhi penerimaan negara," kata Donny di Jakarta, Kamis (24/5/2018).

Donny menjelaskan, pemerintah selama ini, sangat mengandalkan cukai hasil tembakau untuk membiayai belanja negara. Namun, dalam dua tahun terakhir ini, industri rokok mengalami penurunan volume penjualan, lantaran penerapan tarif cukai yang tinggi. "Industri semakin lama semakin terpuruk. Kontraproduktif seperti ini harus disikapi oleh pemerintah," ujar kader Nasdem ini.

Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret-Kretek Indonesia, Djoko Wahyudi berharap, pemerintah tidak menaikkan tarif cukai rokok. Dampak dari kebijakan yang kontra produktif tersebut sangat besar. "Saya sudah menulis surat kepada pemerintah dan Kementerian Keuangan, mohon untuk tidak dinaikkan," ucap Djoko.

Jika cukai tetap dinaikkan, menurut Djoko, pemerintah justru akan mengalami kerugian. "Kalau itu terganggu dengan kebijakan yang tidak pas, maka jadi malapetaka bagi pemerintah. Terlebih dengan situasi seperti ini di mana pemerintah lagi banyak membangun dan butuh uang. Kalau dinaikkan lagi ya salah," ujarnya.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (FSP RTMM-SPSI), Sudarto mengatakan, kebijakan pemerintah yang tidak kontraproduktif, secara langsung maupun tak langsung, memberikan efek domino terhadap buruh rokok.

"Sebaiknya pemerintah harus mempertentangkan dengan serius, mengingat dampak kenaikan cukai langsung adalah dari terganggunya kesejahteraan pekerja sampai kepada hilangnya pekerjaan," ucapnya.

Setiap tahunnya, Sudarto melanjutkan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dikarenakan kebijakan tarif cukai rokok yang tinggi. Buruh rokok selama ini selalu tidak dianggap penting dalam industri. Padahal, buruh merupakan bagian terpenting dalam kelangsungan industri rokok. "Kalau omzet turun, pengusaha pengusaha pasti PHK pekerjanya," ujar Sudarto. [tar]

Komentar

x