Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 00:08 WIB

Omzet Miliaran Petani Sawit Mitra Astra Agro

Senin, 28 Mei 2018 | 16:09 WIB

Berita Terkait

Omzet Miliaran Petani Sawit Mitra Astra Agro
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Donggala - Saat ini, cukup banyak petani sawit sukses yang menjadi mitra anak usaha Grup Astra Agro di Sulawesi. Daftar petani sawit beromzet miliaran itu, cukup panjang.

Salah satunya adalah Ahmad Sutriman yang akrab disapa Haji Bintoro. Dia dikenal petani sawit sukses yang lahannya tersebar di Kabupaten Pasangkayu (Sulawesi Barat) dan Kabupaten Donggala (Sulawesi Tengah).

Dibutuhkan waktu 90 menit dari Pasangkayu, menuju kediaman Haji Bintoro di Desa Polanto Jaya, Kabupaten Donggala. Dan, rumah pria kelahiran Demak, Jawa Tengah ini yang paling megah.

Di teras rumah yang difungsikan sebagai toko bahan bangunan itu, Bintoro,menceriterakan suka-duka saat awal menjejakkan kaki di kawasan yang dahulu bernama Lalundu tersebut.

Ayah tiga anak dan dua cucu dari seorang istri ini memang cukup kaya.
Di garasi mobilnya yang berukuran sekitar 15x5 meter, terparkir mobil Toyota Fortuner, Toyota Rush terbaru, truk dan pick-up kecil. Adapula tumpukan besi beton dan pupuk. "Saya punya dua mobil truk lagi selain yang di garasi. Kalau kebun sawit, saat ini sekitar 30 hektaran," ujar Bintoro.

Kehidupannya yang mapan diakui Bintoro berkah dari menanam kelapa sawit yang dirintisnya ketika PT AAL membuka perkebunan sawit di Kabupaten Pasangkayu dan Donggala, pada 2004. "Saya beralih dari kakao ke sawit karena PT Astra, saat itu memberikan bantuan bibit sawit lewat program Income Generating Activity (IGA)," kata Bintoro.

Ya, Bintoro benar. PT Mamuang, anak usaha AAL, kala itu membagikan bibit sawit kepada petani yang berminat. Bibit tersebut bisa diangsur dengan pemotongan harga pembelian tandan buah segar (TBS).

Kini, Bintoro tinggal menikmati jerih payahnya. Luas kebun sawit yang semula dua hektar, terus berkembang hingga menjadi 30 hektar. Kehidupan pria berumur 53 tahun ini, berubah drastis karena sawit. Penghasilannya mencapai Rp1 miliar saban tahun. Untuk biaya pengolahan serta pemeliharaan kebun hanya Rp30 juta per bulan.

Sebelum sukses, Bintoro adalah pedagang alat sepeda ontel di daerahnya, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Pada 1994, dirinya hijrah ke daerah transmigrasi Lalundu, yang kini menjadi desa definitif bernama Polanto Jaya.

"Tapi saya bukan transmigran. Saya datang sendiri untuk berdagang alat sepeda dengan naik kapal kayu dari Kota Palu ke Mamuju, lalu berjalan kaki ke sini, melewati hutan yang saat itu sedang dikembangkan menjadi kawasan permukiman transmigrasi," ujarnya.

Selanjutnya, dia membuka kios kecil yang diberi nama Bintoro. Di sinilah awal ketenarannya nama Bintoro, hingga masyarakat tak tahu nama aslinya.

Tahun pertama, Bintoro memasuki masa-masa sulit. Apalagi, wilayah Lalundu terkenal sebagai daerah banjir. Alhasil, banyak transmigran yang tak betah, selanjutnya menjual murah lahan dan rumah mereka.

Setelah Astra Agro Lestari masuk, kondisi mulai berubah dan makin baik. Jalan raya mulai terbuka meski belum beraspal, saluran air dibangun sehingga banjir tidak lagi menjadi momok bagi masyarakat.

Sampai sekarang pun, kata Ketua Kelompok Tani Sawit di Kecamatan Rio Pakava itu, kondisi masyarakat sebenarnya masih cukup sulit. Jalan raya menuju ke sini masih berat karena berlubang-lubang dan belum sepotong pun yang beraspal.

"Listrik PLN saja baru 2 bulan ini bisa menjangkau daerah kami. Begitu pula, jaringan telepon seluler, baru sekitar sebulan lalu bisa kami nikmati," ujar Bintoro yang juga mengelola Pondok Pesantren itu.

Kini, Bintoro bersama istri dan dua anaknya yang sudah sarjana serta satu anak lagi yang kuliah di Kota Palu, merasa sangat bersyukur. Setiap tahun, mereka bisa pulang kampung menengok orang tua dan keluarga di Jawa.

Community Development Area Manager Celebes 1, Budi Sarwono, mengaku bangga atas sukses yang diraih Haji Bintoro."Ini memang tujuan utama perusahaan kami seperti yang termaktub dalam moto perusahaan 'prosper with the nation' (sejahtera bersama rakyat)," ucap Budi.

Dari segi ekonomi, Astra Agro Lestari mengeluarkan dana rata-rata Rp50 miliar setiap bulan untuk membeli produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Pasangkayu dan Donggala. Sawit itu diarahkan untuk bahan baku dua pabrik CPO dan sebuah pabrik minyak goreng.

AAL Group sendiri memiliki enam anak perusahaan yang membangun perkebunan sawit dan industri CPO di Pasangkayu dan Donggala dengan total areal sekitar 30-an ribu hektar. [tar]

Komentar

x