Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 20:52 WIB

Stunting Rugikan Negara Rp390 Triliun/Tahun

Selasa, 29 Mei 2018 | 00:29 WIB

Berita Terkait

Stunting Rugikan Negara Rp390 Triliun/Tahun
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, mengatakan, masalah stunting ancaman serius bagi bonus demografi di Indonesia.

Yang dimaksud stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Selama ini, masalah stunting tidak disadari sebagai suatu permasalahan yang serius. Sementara, Indonesia sudah mulai masuk masa bonus demografi yang diprediksi mencapai puncaknya pada 2030.

"Jadi persiapannya harus dari sekarang. Kalau kita tidak hati-hati, maka bonus demografi ini jadinya tidak menguntungkan bagi kita kalau kita tidak serius menangani masalah stunting," ujar Bambang di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (28/5/2018).

Pada 2030, angkatan usia produktif (15-64 tahun) diprediksi mencapai 68% dari total populasi. Sementara angkatan tua (65 tahun ke atas), jumlahnya 9%. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013, sebanyak 37,2%, atau sekitar 9 juta balita di Indonesia mengaiami stunting. Artinya, satu dari tiga balita di Indonesia menderita stunting.

"Target jangka panjang kita ya mengurangi stunting. Kita berharap angka sepertiga itu harus turun drastis dan tergantung dari langkah yang kita ambil. Oleh karena itu, harus terintegrasi supaya turunnya cepat," kata Bambang.

Pemerintah sendiri menjadikan pencegahan stunting sebagai prioritas nasional pemerintah dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 dan 2019.

Pada 2018, pemerintah fokus melakukan pencegahan dan penurunan stunting di 100 kabupaten/kota prioritas. Angka tersebut meningkat menjadi 160 kabupaten/kota pada 2019.

"Pelaksanaan padat karya di 100 kabupaten kota diharapkan bisa mendukung pengurangan stunting. Jadi yang paling penting dalam jangka pendek ini kita melibatkan banyak pihak," kata Bambang.

Ia menuturkan, penurunan stunting yang juga merupakan prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasionai 2015-2019, harus sejalan dengan penurunan anemia, bayi dengan berat lahir rendah, bayi dengan berat badan di bawah rata-rata (underweight), anak dengan berat badan kurang untuk ukuran tinggi badannya (wasting), obesitas, serta peningkatan cakupan ASI eksklusif.

Bambang menilai, mencegah stunting sangat penting untuk mencapai SDM indonesia yang berkualitas dan pertumbuhan ekonomi yang merata, serta memutus rantai kemiskinan antar generasi. Komitmen pemerintah daerah sangat penting dalam memastikan program penurunan stunting dapat direncanakan dan dianggarkan dalam dokumen perencanaan di daerah.

"Sekarang kita akan lihat kesungguhan daerah. Kita sudah melakukan kampanye supaya stunting jadi isu di tingkat daerah. Stunting ini ada dari Sabang sampai Merauke, jadi tidak ada satupun wilayah yang tidak kena. Jadi bukan main-main, ini serius," kata Bambang.

Dalam jangka panjang, stunting ternyata juga menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2-3% dari produk domestik bruto (PDB) per tahun. Berdasarkan data Bank Dunia pada 2016, jika PDB Indonesia sebesar Rp13.000 triiiun, maka diperkirakan potensi kerugian akibat stunting dapat mencapai Rp260-390 triliiun per tahun.

Ketika dewasa, anak yang mengalami kondisi stunting pun berpeluang mendapatkan penghasilan 20% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami stunting. [tar]

Komentar

Embed Widget
x