Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 Juni 2018 | 15:02 WIB
 

Ekonom Ragu BI Bisa Selamatkan Rupiah

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 30 Mei 2018 | 13:27 WIB
Ekonom Ragu BI Bisa Selamatkan Rupiah
Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan bank sentral tak segan menempuh kebijakan untuk menstabilkan nilai rupiah yakni dengan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) tambahan.

BI menegaskan RDG tambahan digelar bukan karena perekonomian nasional sedang dalam kondisi darurat.

Menanggapi hal ini Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara ragu, RDG tambahan dari BI tidak akan memperkuat laju nilai tukar rupiah.

"Jadi meskipun BI akan naikan bunga acuan lagi di RDG tambahan pelaku pasar tidak terlalu surprise," kata Bhima kepada INILAHCOM, Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Perhatian utama, kata Bhima, justru adalah melihat sinyal berapa kali BI akan naikan bunga acuan sampai akhir tahun. "Apakah benar benar pre emptive mengantisipasi setiap naiknya Fed rate atau lebih dovish. Kemudian pelaku pasar juga mencermati langkah lain yang mungkin diambil BI sebagai bentuk stabilisasi rupiah," katanya.

Selain itu, faktor global bisa jadi penghambat laju penguatan rupiah salah satunya karena instabilitas politik dan ancaman krisis keuangan di Italia. Selain Italia ada Turki dan Argentina yang dikhawatirkan memicu krisis sistemik global. Belum lagi, negosiasi AS dan China belum menemui titik terang dan berpotensi melanjutkan trade war serta keputusan OPEC yang berpengaruh ke harga harga komoditas.

"Sampai pekan depan rupiah dan mata uang di Asia masih mixed," ujarnya.

BI siang ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) tambahan. Memang, bank sentral telah memberikan sinyal akan menaikkan kembali suku bunga acuan. Setelah kenaikan 25 basis points (bps) beberapa waktu lalu.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, fokus bank sentral dalam jangka pendek yakni melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui kebijakan suku bunga yang preempitve, front loading, dan ahead the curve. Hal ini dilakukan selain tetap konsisten menjaga inflasi agar berada di kisaran target sasaran inflasi 3,5% plus minus 1%. [hid]

Komentar

 
x