Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 04:03 WIB

Ini Dampak Merosotnya Rupiah Bagi Dunia Usaha

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 30 Mei 2018 | 13:45 WIB
Ini Dampak Merosotnya Rupiah Bagi Dunia Usaha
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Imbas dari naik turunnya nilai tukar rupiah kian membebani para pelaku usaha, terutama kepada para pelaku usaha yang mengandalkan bahan baku impor.

Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara Ada efek domino dari naik turunnya nilai tukar rupiah ke sektor riil.

"Efeknya pertama ke biaya produksi industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor. Pendapatan industri domestik dalam bentuk rupiah sementara harus beli bahan baku pakai dolar. Selisih kurs membuat biaya produksi naik, sementara dengan kondisi permintaan masyarakat yang lemah, industri tidak akan langsung naikan harga jual," kata Bhima kepada INILAHCOM, Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini berpotensi naik-turun, nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) mulai menunjukan keperkasaanya. Pada Senin lalu (28/5/2018) sentimen eksternal berhasil membawa rupiah turun ke bawah Rp14.000.

Bahkan kemarin dolar AS berada di Rp13.985, mulai meninggalkan level Rp14.000-an yang bertahan cukup lama.

Namun saat hari ini, Rabu (30/5/2018) nilai tukar dolar AS terhadap rupiah kembali naik ke level Rp14.000. Mengutip data perdagangan Reuters, Rabu pagi dolar AS berada di level Rp14.045. Naik dari posisi kemarin di level Rp13.985.

Ujungnya efisiensi bisa ke pengurangan karyawan, menunda ekspansi usaha atau bahkan menutup unit usaha. Itu bisa berpengaruh ke kinerja ekspor dan investasi langsung.

Dampak kedua dari sisi logistic cost. Untuk kegiatan ekspor impor kapal asing masih mendominasi atau sekitar 89% dari total jenis kapal. Dengan naiknya harga minyak mentah plus pembayaran menggunakan dolar, otomatis logistic cost semakin mahal bagi pelaku usaha Indonesia.

Ketiga, efek domino dari mahalnya bahan baku plus jasa angkutan impor membuat inflasi bisa merangkak naik. Sebagian kebutuhan pokok kita kan impor. Mau beras, gula, garam, gandum, kedelai, daging bahkan singkong pun impor.

Bulan Mei-Juni ada tekanan inflasi volatile food selain karena Ramadhan juga karena imported inflation. Ujungnya kalau ada kenaikan harga kebutuhan pokok daya beli bisa menurun.

Keempat, kurs rupiah mempengaruhi biaya impor minyak mentah. Disisi yang lain harga minyak dunia masih mahal. Minyak jenis Brent kini dihargai 75 usd per barel atau naik 13,6% sejak Januari 2018. Dampaknya harga BBM nonsubsidi termasuk Pertalite akan terus dinaikkan. Imbas nya bisa ke banyak hal, salah satunya kenaikan biaya transportasi.

Kelima, efek terhadap resiko gagal bayar utang luar negeri swasta. Per kuartal I 2018 total ULN swasta mencapai 174 miliar usd. Pelemahan rupiah membuat swasta menanggung rugi karena membayar cicilan pokok dan bunga yang lebih mahal. Sementara tidak semua perusahaan swasta melakukan hedging atau lindung nilai.

"Mungkin perusahaan menengah atas sanggup lakukan hedging, tapi bagi kelas menengah yang modalnya terbatas tentu upaya hedging sangat mahal. Kita harus ekstra hati hati soal ULN swasta ini," ujarnya.

"Karena salah satu penyebab krisis finansial tahun 1998 juga akibat gagal bayar utang luar negeri swasta. Jadi overall ekonomi memang sulit tumbuh 5,4%. Indef prediksi tahun ini 5,1%," kata Bhima. [hid]

Komentar

x