Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 Agustus 2018 | 10:22 WIB

Asing Bermunculan, Semen Indonesia Yakin Merajai

Oleh : - | Jumat, 1 Juni 2018 | 13:09 WIB
Asing Bermunculan, Semen Indonesia Yakin Merajai
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Semarang - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk optimistis bisa merajai pasar bahan bangunan di tanah air. Meski pabrik semen baru marak dibangun investor asing.

"Begini, dari sisi konsumsi dalam negeri untuk industri di Indonesia ada kenaikan 6,6 persen, kami hanya naik 1,3 persen," kata Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia Agung Wiharto di Semarang, Jawa Tengah, Kamis malam (31/5/2018).

Pangsa pasar Semen Indonesia, kata dia, mengalami penurunan menjadi 39%. Namun tetap masih tinggi dibandingkan pasar industri semen kompetitor.

Menurut dia, Semen Indonesia harus menaikkan harga sedikit dari produk pesaing, seperti di Jawa Timur yang beda harga antara Semen Gresik bisa sampai Rp10 ribu lebih mahal dari Semen Conch.

"Dengan Semen Heidelberg bedanya sekitar Rp2.000-3.000, sementara dengan Semen Holcim bedanya sampai Rp5.000. Tetapi, kami masih menguasai hampir 70 persen di Jatim," ungkap Agung.

Ia menjelaskan pasar ideal berada di level 37%, sementara Semen Indonesia memiliki pangsa pasar di atas level tersebut. Bisa jadi karena lokasi pabriknya sangat strategis.

"Sebagai contoh, Semen Padang menguasai Sumatera, kemudian Gresik, Rembang, Tuban bisa menguasai Jawa, sementara Sulawesi ada Semen Tonasa. Kami juga sudah punya 'market' kuat di Bali dan Nusa Tenggara," kata Agung.

Bahkan, kata dia, pasar di Papua juga sudah dikuasai Semen Indonesia meski konsumsi semen di wilayah tersebut selama ini hanya satu persen dari total konsumsi semen secara nasional.

Mengenai gencarnya proyek infrastruktur sekarang ini, kata Agung, memang secara kasat mata membutuhkan banyak konsumsi semen, seperti pembangunan jalan tol, bandara, pelabuhan, dan bendungan.

"Tetapi, mari dihitung. Contoh saja, Jembatan Suramadu yang dibangun selama lima tahun dengan kebutuhan semen sekitar 450 ribu ton. Jumlah itu hanya penjualan semen kami dalam 1,5 hari," katanya.

Artinya, kata dia, infrastruktur tidak terlalu banyak berkontribusi terhadap kebutuhan semen, melainkan justru imbas dari proyek infrastruktur tersebut setelah jadi dalam tahun-tahun ke depan.

"Begitu jalan tol selesai, misalnya, banyak bertumbuh ritel-ritel di situ, dibangun rumah sakit, perumahan, restoran, dan sebagainya. Infrastruktur baik untuk pertumbuhan pembangunan ke depan," katanya.

Apalagi, Agung menambahkan pembangunan infsratruktur tidak terlalu fanatik dengan merek, tetapi lebih mendasarkan pada harga yang bersaing selama memenuhi standar dan spesifikasi yang sudah ditentukan.

"Justru yang lebih menguntungkan secara 'brand' itu pangsa ritel. Merek berpengaruh karena diminati. Mereka rela membeli Rp2.000-3.000 lebih mahal karena mereka percaya produk kami lebih bagus," katanya. [tar]

Komentar

x