Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 20 Juni 2018 | 07:22 WIB
 

Pilot Garuda Mogok, Bos AP II Hanya Bisa Berharap

Oleh : - | Sabtu, 2 Juni 2018 | 17:09 WIB
Pilot Garuda Mogok, Bos AP II Hanya Bisa Berharap
Presiden Direktur PT Angkasa Pura II (Persero), Muhammad Awaluddin - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Pekanbaru - Presiden Direktur PT Angkasa Pura II (Persero), Muhammad Awaluddin, berharap, aksi mogok pilot PT Garuda Indonesia (Persero) tak mengganggu layanan angkutan Lebaran.

Ya, Awaluddin galau lantaran penikmat moda transportasi udara pada Mudik 2018, cukup besar. Diperkirakan mencapai 6,2 juta penumpang yang siap menggunakan jasa angkutan udara. "Semoga tidak mengganggu kegiatan masyarakat yang ingin pulang ke kampung halaman," kata Awaluddin saat melakukan sidak di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, Kota Pekanbaru, Jumat (1/6/2018).

Mantan Direktur Telkom ini berjanji akan terus memantau perkembangan terkini terkait masalah internal maskapai Garuda. Diharapkan, rencana mogok terbang ribuan pilot Garuda Indonesia, tidak merugikan masyarakat yang menjadi pengguna angkutan Lebaran.

"Kami berharap sesama pelaku komunitas bandara, mari kita jaga sama-sama. Kita melayani semua, layani masyarakat yang akan pulang mudik dan kembali. Harapan kita, kita harus kerja sama yang baik," kata Awaluddin.

Tahun ini, lanjutnya, AP II memprediksi jumlah penumpang angkutan Lebaran yang akan menggunakan Bandara yang dikelolanya bakal mencapai angka 6,2 juta orang. Jumlah itu menunjukan ada pertumbuhan 8%-9% dibandingkan jumlah penumpang pada tahun lalu yang mencapai 5,56 juta orang.

Sebelumnya, Asosiasi Pilot Garuda (APG) memastikan 1.300 pilot dan 5.000 kru Garuda Indonesia akan melakukan aksi mogok kerja dalam waktu dekat, termasuk saat arus mudik Lebaran.

Semua kru dan karyawan Garuda yang tergabung dalam Serikat Karyawan Garuda (Sekarga), yang berjumlah 10 ribu orang, melakukan mogok massal pada waktu yang telah ditentukan.

APG dan Sekarga telah menyampaikan rencana mogok dan tuntutan mereka kepada pemerintah setahun lalu. Hal yang sama mereka lakukan pada 2 Mei lalu dengan memberikan waktu kepada pemerintah hingga 30 hari kerja.

Tuntutan karyawan hanya ingin pemerintah menindaklanjuti tuntutan mereka, salah satunya melakukan perombakan pada direksi BUMN tersebut.

Ketua Umum Sekarga Ahmad Irfan Nasution sempat menyebutkan salah satu alasan mogok kerja itu adalah mediasi antara karyawan dan direksi Garuda tak memenuhi titik temu.

Padahal mediasi diperlukan untuk membahas kerugian perusahaan hingga US$213,4 juta, atau sekitar Rp2,88 triliun pada 2017. Diduga, membengkaknya kerugian ini merupakan buah dari kegagalan direksi dalam mengelola perusahaan. [tar]

Komentar

 
Embed Widget

x