Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Oktober 2018 | 06:47 WIB

Kelangsungan Investasi di Indonesia Harus Dijaga

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 5 Juni 2018 | 06:09 WIB

Berita Terkait

Kelangsungan Investasi di Indonesia Harus Dijaga
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Maraknya isu investasi berbasis teknologi, atau industri 4.0, perlu dipikirkan secara matang. Jangan sampai investor beralih ke negara lain.

Kalau itu terjadi, perekonomian nasional kena dampaknya, Lantaran, investasi menjadi satu-satunya andalan untuk memacu pertumbuhan ekonomi, serta penyerapan tenaga kerja. Hal itu penting di tengah potensi 50 juta orang di Indonesia akan kehilangan pekerjaan karena revolusi industri 4.0.

Eka Sastra, Anggota DPR mengatakan, terkait industri 4.0, proses produksi sudah menggunakan big data. Hal ini yang membedakan industri 4.0 dengan industri pada gelombang-gelombang sebelumnya.

"Soal revolusi industri 4.0 ini bukan soal siap atau tidak tapi bagaimana kita terlibat di dalamnya," kata Eka dalam Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP) bertajuk Menjaga Kelangsungan Investasi Indonesia di Jakarta, Senin (4/6/2018).

Sedangkan Ekonom UGM, Tony Prasetiantiono menyampaikan, pemerintah sudah menyiapkan lima sektor industri untuk dihadapkan pada revolusi industri 4.0. Kelima sektor industri tersebut adalah makanan dan minuman (mamin), tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia.

Sedangkan industri lainnya diluar ke-5 sektor tersebut tetap akan berkontribusi pada perekonomian Indonesia, baik sebagai penyumbang pendapatan negara, serta penyerap tenaga kerja.

Lebih lanjut Tony mengatakan, salah satu upaya Indonesia untuk stabilitas rupiah salah satunya adalah dengan mengandalkan ekspor dan investasi. Faktor-faktor itu saling berkaitan sebab untuk ekspor diperlukan kegiatan industri dan industri amat erat berkaitan dengan investasi."Pemerintah sudah bekerja keras untuk menarik investasi sebanyak mungkin," ujar Tony.

Namun, berkebalikan dengan hal tersebut, fakta dari dalam negeri menunjukkan, sejumlah investor justru merasa tidak nyaman. Alasan utamanya banyak regulasi yang berujung kepada membengkaknya biaya produksi.

Regulasi yang muncul salah satunya dilatarbelakangi oleh perlunya pemerintah meningkatkan pendapatan negara, yang kemudian diwujudkan dengan menaikkan tarif pajak, bea, cukai, dan retribusi.

Hal tersebut menyebabkan para pelaku industri dalam kondisi dilematis, dimana mereka terpaksa menahan produksi untuk menghindari peningkatan biaya. Peningkatan kapasitas produksi akan mengarahkan aktivitas usaha berbalik dari menghasilkan keuntungan menjadi pemicu kerugian Sebab, peningkatan produksi berarti peningkatan jumlah pajak, bea, cukai, dan retribusi yang harus dibayar.

Hal ini dibenarkan Toni Tanduk dari Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia. "Jika Indonesia ingin mengajak pihak lain untuk berinvestasi, perlu diperhitungkan bagaimana menjaga keberlangsungan investasi itu di Indonesia," kata dia.

Pandangan itu dibenarkan Tony, bahwa Indonesia perlu memikirkan daya saing investasi dengan negara lainnya, seperti Vietnam dan sebagainya. "Dukungan terhadap investasi yang sudah ada di Indonesia menjadi penting, misalnya dengan membangun infrastruktur dan membuat regulasi-regulasi yang menunjang kegiatan produksi", tambahnya.

Dalam diskusi FDEP, Eka memberi contoh industri tembakau. Dia bilang, regulasi terkait tembakau dinilai tidak jelas, sehingga menimbulkan keengganan investor masuk ke Indonesia.

Hal ini dapat memberi dampak krusial, seperti diketahui pada 2017, industri tembakau menyumbangkan penerimaan negara sebesar Rp149 triliun. Sektor itu mempekerjakan total 6,4 juta orang yang terdiri dari petani tembaku dan cengkeh, buruh pabrik, hingga pekerja di sektor distribusi produk tembakau. [ipe]

Komentar

x