Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 02:33 WIB

Candra Klaim Selamatkan Duit Cost Recovery Rp15 T

Rabu, 6 Juni 2018 | 04:09 WIB

Berita Terkait

Candra Klaim Selamatkan Duit Cost Recovery Rp15 T
Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim berhasil selamatkan dana cost recovery hingga US$1.080 miliar. Atau setara Rp15 triliun dari Blok Merakes di Kalimantan Timur.

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar dalam rilis di Jakarta, Selasa (5/6/2018), menyebutkan, Blok Merakes dikembangkan investor asal Italia, Eni SpA (85%) dan Pertamina Hulu Energi (15%) di Blok East Sepinggan. Di mana, konrak kerja di kedua blok ini masih menggunakan skema cost recovery yang membebani APBN.

"POD (plan of development/rencana pengembangan) dari Blok Merakes yang dikembangkan Eni telah disetujui dan biayanya berhasil kami pangkas 1.080 miliar dolar AS. Pemangkasan biaya ini tidak mengurangi target produksi dari Blok Merakes," ungkap Arcandra.

Arcandra menjelaskan biaya proyek Merakes bisa dipangkas setelah investor setuju untuk mengurangi biaya operasi dan belanja modal.

Selain itu, penggunaan teknologi dan barang yang tepat ikut berkontribusi terhadap berkurangnya nilai proyek tersebut.
Pemerintah menargetkan produksi Lapangan Merakes pada 2019, mencapai 150 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd).

Untuk mendorong investasi di sektor migas, kementerian ESDM memang terus melakukan sejumlah terobosan. Selain memangkas regulasi yang menghambat investasi, kementerian ESDM mereview ulang biaya pengembangan blok yang sudah ditetapkan pemenang lelangnya.

Sebelumnya Kementerian ESDM memangkas biaya pengembangan Blok Jambaran Tiung Biru (JTB) Cepu, Jawa Timur sebesar US$500 juta, atau sekitar Rp7 triliun. Semula, biaya yang diajukan ExxonMobil untuk pengembangan blok JTB sebesar US$2.050 miliar. Blok tersebut juga menggunakan sistem "cost recovery" atau seluruh biaya pengembangan blok akan dibayarkan oleh pemerintah dari APBN.

Berkat pemangkasan biaya pengembangan Blok JTB akhirnya Perusahaan Listrik Negara (PLN) mau menyerap gas dari JTB.
Pasalnya harga jual gas juga turun menjadi US$7,6 per mmbtu flat, selama 30 tahun.

Sebelumnya dengan nilai investasi US$2,050 harga jual gas yang ditawarkan ke PLN mencapai US$9 per mmbtu. Sehingga dengan harga sebesar itu PLN menolak karena tidak masuk pada harga keekonomian perusahaan.

"PLN inginnya harga tidak pengaruhi biaya pokok produksi (BPP). Dengan harga segitu (7,6 dolar per mmbtu) harga BPP tidak akan naik," ungkap Arcandra.

Langkah kementerian ESDM memangkas biaya pengembangan blok-blok migas yang menggunakan cost recovery, tentunya akan sangat menguntungkan pemerintah.

Selain mengurangi beban di APBN, pemangkasan biaya juga akan menjadikan produksi migas Indonesia menjadi efisien dan lebih transparan. Contohnya, Kementerian ESDM berhasil menyelamatkan dana cost recovery Rp22 triliun di Blok Merakes dan JTB. [tar]

Komentar

x