Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 20 Juni 2018 | 07:21 WIB
 

Indonesia Masih Terancam Infeksi Emerging

Oleh : - | Rabu, 6 Juni 2018 | 09:59 WIB
Indonesia Masih Terancam Infeksi Emerging
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian LIngkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indra Eksploitasia mengatakan, selama 11 tahun 167 orang meninggal karena flu burung.

Jumlah itu dari 199 orang yang tertular virus H5N1, di 15 provinsi dan 58 Kabupaten/Kota. Sementara di India, sampai akhir Mei 2018 sedikitnya 13 orang meninggal dunia di Negara Bagian Kerala, akibat terinfeksi virus Nipah.

Seperti halnya virus flu burung yang ditularkan oleh hewan (zoonosis) - khususnya unggas -, virus Nipah yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 pasca wabah di Malaysia dan Singapura, ditularkan oleh kelelawar, babi atau hewan lain ke manusia.

Virus ini memiliki tingkat kematian hingga 70 persen dan dapat menyebabkan ensefalitis, atau peradangan otak, serta gangguan serius pada sistem pernafasan. Kedua zoonosis ini, Flu Burung dan virus Nipah, termasuk penyakit infeksi emerging (PIE), atau penyakit yang sebelumnya tidak ditemukan pada manusia, atau sudah lama tak ditemukan kemudian muncul kembali.

Penyakit infeksi emerging yang pernah mewabah di dunia antara lain dan memiliki tingkat kematian yang tinggi adalah: Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2003, diikuti oleh Avian Influenza atau flu burung pada 2004-2005 (440 kematian), Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (787 kematian) di tahun 2012, Ebola pada tahun 2014-2016 (11.310 kematian), dan Zika di penghujung 2015.

"Kesehatan lingkungan berpengaruh pada kesehatan manusia dan hewan khususnya satwa liar. Data WHO menyebutkan setiap tahun lebih dari 12 juta orang meninggal di seluruh dunia karena lingkungan yang tidak sehat," kata Indra dalam keterangan resmi, Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Sementara Kasubdit Keamanan Hayati Dit KKH Ditjen KSDAE KLHK, Lulu Agustina mengatakan, Indonesia sebagai posisi ke dua sebagai negara dengan kekayaan hayati dan keanekaragaman jenis fauna di dunia, tentunya rentan terhadap ancaman zoonosis. Interaksi antara manusia, hewan dan lingkungan hidup menjadi salah satu faktor munculnya PIE di Indonesia.

"Salah satu kondisi yang meningkatkan risiko munculnya penyakit zoonosis adalah alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman atau perkebunan. Hal ini akan mengakibatkan interaksi antara satwa liar dengan manusia serta ternak akan semakin tinggi sedangkan menurut penelitian menyatakan bahwa reservoir penyakit zoonosis paling tinggi ada di satwa liar seperti burung migran, kelelawar, monyet ekor panjang dan tikus," ujar dia.

Lu'lu menambahkan bahwa perilaku manusia dan faktor demografi juga dapat mempengaruhi epidemiologi zoonosis yang berasal dari satwa liar. "Berburu dan mengkonsumsi daging satwa liar dapat meningkatkan risiko tertular penyakit zoonosis," imbuhnya.

Dalam meningkatkan kapasitas Pemerintah Indonesia dalam mencegah dan mengurangi dampak penyakit infeksi emerging (PIE) dan zoonosis, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (KEMENKO PMK), Kementerian Kesehatan (KEMENKES), Kementerian Pertanian (KEMENTAN) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KEMENLHK) bekerja sama dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) melalui program Emerging Pandemic Threats (EPT)2, menerapkan pendekatan One Health.

Pendekatan One Health merupakan upaya terintegrasi dari lintas disiplin ilmu dan institusi, dilaksanakan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global, untuk mencapai kesehatan yang optimal bagi masyarakat, hewan dan lingkungannya. One Health mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan hidup saling terkait.

Program EPT2 menerapkan pendekatan One Health melalui kegiatan peningkatan kapasitas, penguatan sistem surveilans, riset, penerapan panduan koordinasi lintas sektor, dan penanganan kasus bersama.

Sampai pertengahan 2018, Pemerintah Indonesia telah memiliki 32 modul kurikulum pendekatan One Health untuk PIE dan zoonosis, panduan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi kejadian luar biasa (KLB), wabah zoonosis dan PIE dengan pendekatan One Health, 74 pelatih utama dan 267 petugas lapangan terlatih.

Tags

Komentar

 
x