Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 Agustus 2018 | 02:08 WIB

Potret Ekonomi Indonesia di Mata Bank Dunia

Oleh : M Fadil Djaelani | Rabu, 6 Juni 2018 | 14:38 WIB
Potret Ekonomi Indonesia di Mata Bank Dunia
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Bank Dunia mencatat peristiwa ekonomi Indonesia yang penting sepanjang triwulan I 2018. Salah satunya pertumbuhan ekonomi cepat didorong investasi yang tinggi.

Meski begitu dari rangkuman Bank Dunia yang dikutip Rabu (6/6/2018) pertumbuhan PDB riil menurun tipis menjadi 5,1% pada triwulan I-2018, sedikit lebih rendah dari 5,2% pada triwulan IV-2017.

Harga komoditas global yang lebih tinggi memacu investasi yang lebih tinggi, terutama investasi permesinan, peralatan, dan kendaraan bermotor. Akibatnya, pembentukan modal tetap bruto bertumbuh sebesar 7,9%, yang tercepat dalam lebih dari 5 tahun ini.

Pertumbuhan yang lebih tinggi dalam investasi di permesinan juga menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam impor, yang tumbuh lebih dari dua kali laju pertumbuhan ekspor, dan bertindak sebagai penghambat pada pertumbuhan.

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi swasta tetap mendatar sebesar 5%, meskipun terdapat tanda-tanda awal pemulihan penjualan ritel. Pertumbuhan di sisi produksi adalah pertumbuhan yang meluas, dan nilai tambah bruto pada harga produsen dipacu di triwulan ini.

Sementara defisit neraca transaksi berjalan menurun di triwulan I, disebabkan oleh defisit perdagangan jasa yang menurun tajam. Defisit neraca transaksi berjalan menurun menjadi 2,1% dari PDB pada triwulan 1, dari 2,3% dari PDB di Triwulan ke-4, sebagian oleh karena masuknya Wisatawan asing yang lebih tinggi.

Total impor bertumbuh hampir dua kali lebih cepat dibandingkan dengan ekspor tahun ke tahun (year-on-year), karena investasi yang padat impor (import-intensive) melonjak dan ekspor melambat.

Inflasi menurun di triwulan ke-l oleh karena adanya efek dasar (base effect). Inflasi IHK menurun menjadi rata-rata 3,3% tahun-ke-tahun (yoy) di Triwulan ke I tahun 2018, dan menyentuh rata-rata triwulanan yang terendah sejak Triwulan ke 4 tahun 2016.

Inflasi inti juga turun dari rata-rata di Triwulan ke 4 sebesar 3,0% menjadi 2,7% di Triwulan ke1. Inflasi IHK yang lebih rendah tersebut sebagian besar disebabkan oleh peningkatan yang lebih kecil dalam harga perumahan, listrik, gas, dan bahan bakar, oleh karena adanya efek dasar yang tinggi di Triwulan ke-l tahun 2017 karena adanya kenaikan tarif listrik. Namun demikian, inflasi harga makanan telah mengalami peningkatan.

Belanja pemerintah kembali mengalami peningkatan, tetapi temtama karena adanya peningkatan subsidi bahan bakar dan belanja bantuan sosial. Dalam 4 bulan pertama tahun 2018, penerimaan pemerintah mengalami pertumbuhan yang signifikan, mencapai nilai yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Belanja juga melonjak karena subsidi bahan bakar dan belanja banruan sosial yang lebih tinggi, sementara belanja modal mengalami kontraksi.

Kondisi keuangan global yang lebih ketat dan meningkatnya volatilitas berkontribusi terhadap arus keluar modal dan depresiasi nilai Rupiah. Dengan adanya normalisasi kebijakan moneter AS yang diproyeksikan akan lebih cepat dari yang diperkirakan, kondisi keuangan global telah mengalami pengetatan yang lebih cepat dari yang diperkirakan, mengakibatkan terjadinya volatilitas di antara negara-negara berkembang dalam beberapa bulan terakhir ini.

Pengetatan kebijakan AS telah menyebabkan arus keluar portofolio yang besar, menyebabkan defisit neraca pembayaran sebesar 1,5% dari PDB di Triwulan ke-l, pertama kali dalam dua tahun terakhir ini.

Karena paparan Indonesia yang relatif tinggi terhadap investor portofolio asing, yang memegang 40% dari utang dalam negeri pemerintah Indonesia, nilai imbal hasil obligasi dan nilai rupiah mendapat tekanan: imbal hasil obligasi Indonesia naik sebesar 21 basis poin di Triwulan ke-l, sementara nilai Rupiah mencapai nilai yang terendah dalam 31 bulan terakhir ini terhadap Dolar Amerika Serikat. Perkiraan defisit transaksi berjalan yang lebih besar terkait dengan pertumbuhan investasi yang lebih cepat juga menekan nilai mata uang.

Kerangka kebijakan ekonomi makro yang sehat memberikan penyangga terhadap peningkatan volatilitas global. Kebijakan moneter telah berjalan dengan baik, menjaga suku bunga riil di wilayah positif dan mempertahankan ekspektasi inflasi. Belum lama ini, meskipun inflasi stabil, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga sebanyak dua kali, sebesar 25 bps. [ipe]

Komentar

x