Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 10:04 WIB

Rupiah Kelojotan di Tahun Politik, BI Kerja Apa?

Oleh : Herdi Sahrassad | Kamis, 14 Juni 2018 | 01:29 WIB

Berita Terkait

Rupiah Kelojotan di Tahun Politik, BI Kerja Apa?
(Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Para analis berharap pemerintah bisa menenangkan pasar serta menjamin keamanan memasuki tahun politik. Bila gagal, siap-siap rupiah kembali terpuruk.

Indonesia akan berturut-turut menyelenggarakan hajatan politik mulai dari Pilkada, Pileg dan Pilpres. Bertumpuknya tiga momentun politik sekaligus menjadikan dunia usaha, pasar dan para investor untuk waspada terhadap gejolak politik yang kapan pun bisa terjadi.

Apalagi, suara-suara yang menghendaki perubahan makin hari makin lantang. Kondisi ini mempersulit upaya pemerintah dan BI menjaga stabilitas rupiah.

Dengan nilai tukar rupiah yang belum stabil maka pemerintah, terutama BI harus berhati-hati dan siap untuk melakukan intervensi terhadap US$. Karena nilai tukar sempat terpuruk hingga Rp14.200 per US$, sangat jauh dari asumsi makro APBN2018.

Kondisi pelemahan kurs ini, yang berbarengan dengan keringnya likuiditas dapat menyebabkan tekanan pada neraca perdagangan akibat kondisi net importir minyak bumi.

Analis ekonomi Gede Sandra menuturkan, dengan pelemahan kurs rupiah tentu akan memperbesar defisit transaksi berjalan. Akibatnya hal ini akan semakin melemahkan kurs rupiah. Kurs dapat meluncur melemah lebih jauh terhadap dolar bila penanganan otoritas terhadap kondisi ini kurang hati-hati.
Sehingga seperti pusaran yang tidak ada habis-habisnya.

Terkait apakah krisis ekonomi bisa terjadi lagi di Indonesia jika nilai rupiah terus melemah, Gede menilai hal tersebut tergantung dari penanganan otoritas keuangan.

Nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp14.203 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (21/5/2018). Atau melemah 0,33% dari level penutupan perdagangan akhir pekan sebelumnya.

Bahkan, bank sudah ada yang menetapkan kurs jual di atas Rp14.300 per US$. Terdapat tiga faktor yang disebut-sebut sebagai penyebab utama kuatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Dalam analisis yang dilansir Tim Ekonom BCA menyebut, tiga hal yang menyebabkan tekanan kuat terhadap nilai tukar rupiah, adalah kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate/FFR), kenaikan harga minyak, serta melemahnya pertumbuhan ekspor dalam beberapa bulan ini.

Sepanjang tahun ini (year to date), nilai tukar rupiah telah melemah 4,77% terhadap dolar AS. Apa yang sedang terjadi? Para analis menilai, defisit transaksi berjalan telah membuat semakin melemahkan kurs rupiah. Bank Indonesia (BI), menyebut pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari sudah berada di bawah nilai fundamentalnya, dan sudah berlebihan.

Jika keterpurukan rupiah terus berlanjut dikhawatirkan negeri ini akan dilanda krisis ekonomi. Ketika masih menjabat Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo menyatakan, tidak bisa menghindari pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terjadi sejak 2013, hingga hari ini.

Ada sejumlah permasalahan yang perlu diselesaikan bersama antara seluruh pihak, terutama pemerintah. Salah satu masalah krusial yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah adalah defisit transaksi berjalan yang disumbangkan defisit dari impor perdagangan yang besar.

Agus menyatakan defisit transaksi berjalan sempat mencapai US$29 miliar. Defisit ini sudah mampu ditekan hingga menjadi US$17 miliar. Namun Agus memprediksi akan ada lompatan angka defisit pada tahun ini yakni mencapai US$23 miliar dan akan berdampak pada rupiah. Selain perbaikan di sisi ekspor, BI meminta pemerintah mengerjakan empat hal.

Keempatnya adalah perbaikan infrastruktur, penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM), perbaikan birokrasi pemerintah, serta inovasi yang harus terus dikembangkan terus dijalankan.

Jangan lupa bahwa di era Agus Marto selaku Gubernur BI, dolar AS sebenarnya sudah menguat hingga Rp15 ribu, namun karena BI sudah melakukan intervensi sebesar US$7 miliar, maka rupiah bisa bertengger di angka Rp14.000/dolar AS. Tapi itupun rentan dan dolar AS sudah pernah tembus Rp14.200.

Kalau kita periksa indicator hari ini account defisit, primary balance defisit, service payment defisit ditambah faktor The Fed dan sudah jebol dua bulan lewat Rp 15 ribu tapi BI sudah intervensi total US$7 miliar.

Menurut ekonom senior Rizal Ramli, melemahnya nilai tukar rupiah sejak awal tahun hingga Mei 2018, bukan hanya disebabkan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat dan rencana ekspansi fiskal Presiden Donald Trump, seperti yang kerap disebutkan BI sebagai penyebab utama depresiasi rupiah.

Namun, menurut RR, sapaan akrab Rizal ramli, melemahnya rupiah karena juga kondisi ekonomi domestik seperti masih banyaknya aliran modal jangka pendek di pasar keuangan, dan juga neraca transaksi berjalan yang terus menyisakan lubang defisit.

Dalam kaitan ini, teknokrat senior ini menyebutkan, pengelolaan ekonomi oleh Menkeu sri Mulyani, patut dikoreksi dan dikritisi. Merujuk pada data indikator ekonomi Indonesia pada kuartal I-2018 yang diungkap melalui akun twitternya, RR mencatat, neraca perdagangan migas minus US$2,4 miliar; neraca perdagangan jasa minus US$1,4 miliar, transaksi berjalan (current account) minus US$5,5 miliar; keseimbangan premier US$1,7 miliar; neraca pendapatan primer minus US$7,9 miliar dan neraca pembayaran minus 3,9 miliar. Data ini bersumber dari Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan 2018.

Rizal mengatakan, ada faktor domestik yang memicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Bayangkan, ekspor tiga bulan negatif tapi bulan ini naik sedikit, terus service payment itu, kemudian kalau account priamary balance atau keseimbangan primer istilahnya itu juga negatif dan itu membuat mata uang Garuda semakin terperosok.

"Artinya selain faktor internasional, justru yang penting faktor domestik yang jarang secara jujur dikatakan.Dan, apa itu? Sederhana, itu account defisit," kata Rizal

Ada pekerjaan rumah di kondisi domestic yang harus dibereskan. Terutama mengatasi deficit transasksi berjalan. Selain itu, untuk perbaikan kebijakan di pasar keuangan, Gubernur baru BI harus mampu berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta Otoritas Jasa Keuangan agar mampu mengurangi dana asing di pasar keuangan (hot money) dan menggantikannya dengan dana asing berjangka panjang.

Selain itu, Pimpinan Bank Sentral juga harus mampu mendorong pemerintah atau kementerian di sektor rill agar mampu memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan, melalui kebijakan di sektor perdagangan. "Itu adalah beberapa yang menjadi penyebab risiko domestik. Memang banyak yang bukan wewenang Gubernur BI, tapi Gubernur BI bisa mendorong itu," tegas Rizal.

Yang jelas, terpuruknya rupiah akan memperbesar defisit transaksi berjalan. Akibatnya akan semakin membuat rupiah melemah. Krisis ekonomi bisa terjadi apabila penanganan yang dilakukan otoritas keuangan tidak baik," kata pengamat ekonomi Gede Sandra. Oleh sebab itu, Bank Indonesia harus berani berterus terang dalam menjelaskan data ekonomi Indonesia serta memberikan rekomendasi perbaikan kebijakan bagi pemerintah untuk mengatasi persoalan yang ada. Apalagi Gubernur BI Yang baru Perry Wajiyo berjanji mau memperkuat otot rupiah.

Janji Gubernur Perry itu perlu dibuktikan. Masyarakat dan dunia usaha menunggu langkah BI serta Tim Ekonomi Kabinet Kerja. Kita lihat saja bagaimana kinerjanya. [ipe]

Komentar

x