Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Juli 2018 | 02:17 WIB
 

Neraca Perdagangan Mei 2018, Lagi-lagi Tekor Besar

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 25 Juni 2018 | 14:40 WIB
Neraca Perdagangan Mei 2018, Lagi-lagi Tekor Besar
Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto - (Foto: inilahcom/Fadil Dj)

INILAHCOM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2018, mengalami tekor alias defisit hingga US$1,52 miliar. Kondisinya sama dengan bulan sebelumnya.

"Neraca perdagangan Mei 2018 kembali mengalami defisit sebesar 1,52 miliar dolar AS," kata Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto dalam paparan kepada media di Jakarta, Senin (25/6/2018).

Kecuk menggunaan kata "kembali", karena pada April 2018, neraca perdagangan Indonesia juga defisit US$1,63 miliar.
Posisi tersebut dipicu sektor migas yang defisit hingga US$1,24 miliar, dan nonmigas sebesar 0,28 miliar dolar AS.

Kecuk mengemukakan bahwa sebenarnya kinerja ekspor pada Mei 2018 telah meningkat, tetapi ternyata jumlah impor lebih besar. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Mei 2018 sebesar US$14,54 miliar. Atau meningkat 16,31% dibandingkan bulan sebelumnya. Dan tumbuh 22,28% secara tahunan (year on year/yoy).

Sedangkan ekspor Januari-Mei 2018 terhadap Januari-Mei 2017 adalah 20,18 persen. Untuk impor Mei 2018 mencapai US$17,64 miliar. Atau meningkat 9,17% dibandingkan bulan sebelumnya. Dan tumbuh 24,75% secara yoy. Sementara perubahan impor sepanjang Januari-Mei 2018 terhadap Januari-Mei 2017, sebesar 24,75%.

Kecuk menyoroti, besarnya jumlah impor sektor migas, khususnya pada impor minyak mentah dan hasil minyak yang dinilai meningkat besar.

Sebagaimana diwartakan, Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, perbaikan struktur ekspor nasional menjadi penting untuk mengatasi dampak dari potensi perang dagang yang dilakukan oleh negara maju. "Kita harus susun kebijakan, baik dari industri atau sumber daya alam untuk perbaiki ekspor kita," kata Darmin di Jakarta, Kamis (21/6/2018).

Darmin memastikan, Indonesia harus mencari peluang dari perang dagang tersebut dan tidak bisa hanya berpangku tangan agar kinerja perdagangan nasional tidak mengganggu proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian terus aktif mendorong peningkatan nilai investasi dan ekspor terutama sektor manufaktur yang diyakini mampu memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato mengatakan pihaknya gencar menarik para investor industri dalam dan luar negeri agar menambah penanaman modalnya di Indonesia, baik itu bentuk investasi baru maupun perluasan usaha atau ekspansi. [ipe]

Komentar

x