Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 26 September 2018 | 06:58 WIB

Di Tangan Jokowi, Ekonomi RI Bisa Lima Besar?

Oleh : Herdi Sahrassad | Sabtu, 30 Juni 2018 | 05:09 WIB

Berita Terkait

Di Tangan Jokowi, Ekonomi RI Bisa Lima Besar?
Presiden Joko Widodo - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kalangan analis menilai duet Jokowi-JK belum berhasil membangun ekonomi rakyat. Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani meramal perekonomian RI bakal masuk empat atau lima besar dunia. Serius?

Saat ini, pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), semakin sulit untuk diprediksi. Namun yang pasti, mata uang negeri Uncle Sam ini berhasil menjungkalkan kurs rupiah dalam beberapa tahun ini. Gejala apa ini?

Ya, karena, nilai tukar rupiah terhadap US$ sudah menembus batas psikologis Rp14 ribu per US$. Tepatnya mencapai Rp14.400 per US$ pada Jumat (29/6/2018). Angka ini menjadi angka terburuk.

Kondisi ini jelas membuat para investor menghitung ulang investasinya. Sebab, nilai aset dalam rupiah menjadi lebih murah dan menjadi menarik untuk ajang investasi.

Meski masih bergerak liar, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual yakin bahwa rupiah tidak akan melemah jauh, bahkan sampai Rp16.000 seperti saat krisis 1998. Benarkah?

Sebelum melemah lebih dalam, David pun meminta Bank Indonesia (BI) melakukan berbagai langkah untuk menenangkan pasar. Mampukah?

Dalam kaitan ini, Mantan Menko Ekuin ekonomi Kwik Kian Gie menilai ambruknya rupiah tak lepas dari beban utang dan merosotnya ekspor. Keadaan utang yang ditanggung negara hingga 2018 ini berbahaya, pasalnya jumlah utang yang ditanggung dalam 2 tahun pemerintahan Jokowi bertambah fantastis hampir Rp1.000 triliun.

"Utang negara sekarang sudah mencapai jumlah yang sangat besar, yaitu sekitar Rp3.600 triiun (dibulatkan). Ketika Jokowi disumpah sebagai Presiden, utang negara sebesar sekitar Rp2.600 triliun," paparnya.

"Dalam waktu 2 tahun dia menambah utang sebesar Rp. 1.000 trilyun atau sebesar 38,46 %. Ini peningkatan yang luar biasa dalam waktu 2 tahun saja," ungkap Kwik

Keadaan negara sangatlah berbahaya, Kwik menilai bahwa ini akibat dari negara yang dipaksa melakukan liberalisasi. Pada akhirnya, dalam keadaan negara terlilit utang, Kwik mengatakan, rakyat Indonesia akan menjadi korban. Karena, rakyat semakin dipersulit dengan pajak dan sebagainya.

Menurut Kwik, sangat benar bahwa rakyat diperas oleh pemerintah sekarang, sebagai contoh melalui pajak. Pembiayaannya utang. Utang ini dibayar dari APBN yang 90 % dari pajak, di sinilah letak pemerasan kepada rakyat dalam memungut pajak yang lebih besar dengan berbagai macam cara dan ancaman-ancaman. "Rakyat diperas bayar pajak," jelas Kwik.

Kwik juga berpendapat, membubungnya utang negara saat ini, akibat dari ambisi pengusaha dalam membangun infrastruktur yang kebablasan.

Menurut Kwik, rezim Jokowi-JK agak ngawur. Intinya, infrastruktur dibangun tanpa perhitungan apakah ada yang akan menggunakannya? Di mana-mana dibangun jalan tol yang mahal tanpa perhitungan.

"Apakah kalau sudah jadi akan ada yang memakai? Ada ruas di Papua yang kalau jadi, jumlah mobil di wilayah itu hanya 500 buah. Jangan lupa bahwa kalau infrastruktur terbangun, harus keluar banyak uang untuk pemeliharaan (maintenance)," tegas Kwik.

Dengan kondisi ekonomi Jokowi-JK yang runyam itu, bisakah kita menjadi empat atau lima besar ekonomi di dunia?

Dalam hal ini, Ekonom senior Rizal Ramli PhD (RR) menyebut, pemerintah boleh saja berbangga diri dengan peraihan Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto yang mencapai US$1 triliun di 2017.

"Kita harus bangga GDP Indonesia US$1 triliun, tapi GNP kita lebih rendah. Karena banyak orang asing kontribusinya kepada GDP kita. Tapi Kalau dibagi dengan 260 juta penduduk hanya sekitar US$3600 per kapita," kata Rizal yang juga mantan Menko Ekuin dan Menko Kemaritiman dalam akun facebook.

Akan tetapi, kalau kita periksa, dilihat dari gross nasional produk (GNP) Indonesia lebih rendah ketimbang dengan negara lainnya. GNP Indonesia lebih rendah apabila dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, bahkan dengan Singapura. Dengan begitu, pemerintah belum bisa berbangga diri dengan hal tersebut.

"Kita itu terendah, Malaysia US$10.000 hampir tiga kalinya, Thailand US$6.000 nyaris dua kalinya, Singapura US$53.000 nyaris 15 kalinya kita. Jadi selain besarnya GDP, one triliun dollar, yang juga lebih penting tingkat pendapatan dan kesejahteraan rakyat jangan dilupakan ini," papar RR, sapaan akrab Rizal Ramli.

Kemudian, RR mengkritisi terkait ramalam dari beberapa pihak yang menyatakan tahun 2030 Indonesia akan masuk dalam empat atau lima besar ekonomi di dunia. Ramalan itu diyakininya tidak akan tercapai.

Sebab, metode ramalamnya kurang tepat. Ramalan tersebut, bukan menggunakan nominal dollar tapi purchasing power parity. Ramalan itu, kata RR, seolah-olah satu burger di Indonesia sama harganya seperti satu burger di negara lain, lalu dicari parameternya.

Menurut Rizal, hitungan seperti ini tidak semua setuju. "Ada 15 alasan kenapa metode purchasing power parity tidak tepat. Orang tetap mau nilai nominal karena satu burger di Indonesia dalam dolar AS berbeda dengan satu burger di negara lain termasuk dampak dan sebagainya. Nah kalau kita gunakan nominal dolar AS, saya enggak terlalu percaya kalau ramalan ini bisa dipertanggungjawabkan secara akuntansi," ujar dia.

Sementara, terkait perkiraan bahwa GDP Indonesia akan naik dari US$1 triliun menjadi US$2,5 triliun pada 2030, dia juga kurang yakin. Alasannya, fakta ekonomi sekarang ini tumbuh hanya 5%, atau bisa disebut stagnan.

"Kalau US$1,9 triliun dengan tumbuh 6 persen itu oke. Tapi, ketika angka itu dibagi dengan 360 juta penduduk ternyata naiknya enggak jauh. Jadi, hari ini Indonesia ranking 16 di dalam GDP kalau kita tumbuh hanya 6 persen kita dan kita tetap masih nomor 16, kok kalau gunakan nominal dolar. Tapi kalau tumbuh 9 persen dengan GDP US$2,5 triliun, pertumbuhan GDP kita bisa naik ke 11%," ujar RR.


Terkait pasal 33 UUD45 dan Trisakti, dia optimis bisa mengubah ekonomi Neoliberal dari era Sri Mulyani-Jokowi menjadi ekonomi konstitusi berkeadilan.

Sehingga kalau RR jadi presiden atau Wapres, dia bertekad dan yakin akan membuat pertumbuhan inklusif sektor ekonomi 9-11 persen per tahun sehingga mampu menggerus-mengikis tajam kemiskinan dan ketidakadilan sehingga RI menjadi kekuatan empat atau lima ekonomi dunia.

Publik menilai gagasan dan terobosan RR untuk mencapai target itu, perlu diuji dan diberi kesempatan. Para analis melihat RR sangat kredibel dan punya kemampuan mumpuni untuk mencapai target itu, yakni Indonesia menjadi kekuatan empat atau lima ekonomi dunia guna mewujudkan maslahat rakyat dan ummat. Kwik Kian Gie menilai RR yang anti-Neoliberalisme itu, mampu membangun NKRI dengan jalan ekonomi konstitusi agar RI menjadi kekuatan ekonomi dunia. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x