Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 05:58 WIB

GPN Seharusnya Punya Standar Tinggi

Oleh : Indra Hendriana | Sabtu, 30 Juni 2018 | 11:09 WIB

Berita Terkait

GPN Seharusnya Punya Standar Tinggi
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/8/PBI/2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) mewajibkan pembayaran integrasi dengan sistem pembayaran ritel.

Selain itu, setiap nasabah atau pemegang kartu ATM/debit diwajibkan untuk memiliki minimal satu kartu berlogo GPN per 1 Januari 2022. Kenyataannya, tidak semua bank dan masyarakat tahu terkait peraturan baru Bank Indonesia tersebut. "Sejak 1995 Visa dan Mastercard masuk ke Indonesia sebagai jaringan sistem pembayaran maka kita membayar fee kepada mereka. Kalau dihitung, kerja sama dengan pihak switching sekitar Rp322,29 triliun selama 2011 hingga 2017," ujar AVP Pengembangan Bisnis Kartu Debit BNI, Dedy Hidmat, Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Melihat hal tersebut, BI kemudian membuat roadmap tahapan-tahapan yang bisa direkomendasikan untuk kedaulatan dan efisiensi sistem pembayaran. Dan, BI akhirnya menciptakan GPN.

Bahkan, GPN nantinya diharapkan dapat memantau transaksi dalam negeri untuk meningkatkan pendapatan pajak. "Pemerintah butuh pendapatan, dengan adanya GPN, pemerintah bisa mengetahui perputaran uang dengan kartu di dalam negeri. Artinya, pajak akan diketahui berapa besarannya," ujar dia.

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, Willy Sakareza menilai, produk yang dikeluarkan Bank Indonesia seharusnya menjadi solusi dari permasalahan yang ada di masyarakat saat ini.

Apabila produk tersebut tidak memecahkan permasalahan yang ada, hanya akan menjadi beban bagi masyarakat.

"Kalau GPN mau sukses, di standarkan terlebih dahulu, rincikan lebih dahulu. Pasalnya, nanti apabila pada akhirnya sistem GPN tidak bagus, pasti konsumen akan membandingkan dengan sistem sebelumnya. GPN akan terlihat jeleknya seperti apa, sedangkan nilai baiknya seperti apa justru malah tidak nampak," kata dia.

Menurutnya, produk yang bagus bisa memberikan solusi sistem pembayaran. "Sedangkan GPN itu apa problem yang dipecahkan? murah? tidak begitu murah juga. Bahkan sampai sekarang ada merchant yang membebankan biaya 3 persen untuk transaksi menggunakan kartu meskipun dilarang BI," jelasnya.

Selain itu, dirinnya mempertanyakan GPN sebagai solusi sistem pembayaran, apakah mempunyai scalability yang kuat apabila terjadi transaksi besar-besaran dalam hitungan detik.
Pasalnya, perbankan dalam negeri pernah mendadak offline, karena kelebihan kapasitas yang berakibat merugikan nasabahnya sendiri. "Kalau tidak memiliki standar tinggi/global, jangan dipaksakan dong," jelasnya.

Menurutnya, Bank Indonesia seharusnya bisa merinci lebih detil dan membuat GPN lebih bagus dari sistem sebelumnya. Begitu pula stakeholder seharusnya menyasar 60 persen konsumen yang belum terakses perbankan, bukan yang ada mengubah non GPN menjadi GPN. Lebih bagus lagi, GPN diterapkan lebih dahulu di wilayah timur yang Bankable (masyarakat punya akses perbankan) masih rendah sekaligus memperluas akses perbankan daerah.

"Kenapa sih bank tidak fokus saja ke penetrasi masyarakat yang belum bankable. Indonesia ini kan baru 40% saja penduduknya yang bankable. Artinya apa, ada 60% penduduk yang bisa dijadikan sasaran agar memiliki akses ke bank melalui GPN. Ketimbang meminta yang non-GPN pindah ke GPN, lebih mending pemerintah fokus ke yang ceruknya lebih besar ini," kata dia.

Selain itu menurut dia, mestinya diperjelas terlebih dahulu aturan main GPN ketimbang nekat memaksakan namun berhujung kerugian. "Pertama, aturannya seperti apa harus diperinci. Misalkan asing (Visa dan Mastercard) sudah bagus 90 persen, maka kita harus 91 persen," kata dia.

"Kalau bertahap, sekarang 80, nanti 85, kemudian 90 ya konsumen dan merchant jangan dipaksa menggunakan GPN, biarkan organik saja, atau pakai promo. Kalau benar-benar belum siap, setidaknya diperbaiki dulu. Tes dulu, jangan main nasional tapi regional atau daerah dulu, misalnya daerah timur yang penetrasi bank belum bagus. Itu namanya spirit Problem solving," imbuhnya. [ipe]

Komentar

x