Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 25 September 2018 | 05:22 WIB

Indef: Ayo Akui, Indonesia Kena Deindustrialisasi

Sabtu, 30 Juni 2018 | 06:09 WIB

Berita Terkait

Indef: Ayo Akui, Indonesia Kena Deindustrialisasi
Ahli ekonomi dari INDEF, Bhima Yudhistira - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) melaporkan, Indonesia dalam 10 tahun terakhir mengalami deindustrialisasi.

Ahli ekonomi dari INDEF, Bhima Yudhistira, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (29/6/2018), mengatakan, kontribusi industri pada perekonomian justru sedang turun.

Ia menyebut, dari 26% kontribusi industri manufaktur pada produk domestik bruto (PDB), susut hingga tersisa 20% saja. "Kalau deindustrialisasi ini dibiarkan maka serapan tenaga kerja secara nasional bisa kurang optimal," katanya.

Bhima menyebut, selama bertahun-tahun, Indonesia mengandalkan pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor yang serapan tenaga kerjanya rendah seperti sektor jasa.

Selain rendah serapan tenaga kerja, sebaran usaha sektor jasa juga terkonsentrasi di perkotaan. Padahal, lebih dari separuh penduduk Indonesia tinggal di perdesaan.

Berbeda dengan industri manufaktur yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi, serta dapat dibangun dimana saja sesuai potensi daerah. "Idealnya industri manufaktur menjadi sektor andalan, dengan ditunjang sektor jasa, pertanian, dan investasi," katanya.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar seluruh pemangku kepentingan perlu menyatukan pandangan dan upaya untuk mengembalikan sektor industri sebagai motor pembangunan.

Contoh Batam
Ia memberikan contoh kemerosotan industri antara lain bisa dilihat di Batam, Kepulauan Riau, daerah yang dirancang menjadi salah satu pusat industri.

Menurut dia, setiap tahun, paling sedikit satu pabrik berhenti beroperasi di berbagai kawasan industri. Di luar kawasan industri, kemerosotan terlihat pada sektor galangan kapal. Dari 110 galangan dengan 250.000 tenaga kerja pada 2014, kini hanya lima galangan aktif dengan total pekerja tidak sampai 22.000 orang.

Kemerosotan juga terlihat nyata pada industri rokok. Dalam periode 2006-2016, terdapat 3.195 pabrik rokok tutup dan sedikitnya 32.729 pekerja pabrik rokok dipecat.

"Hampir seluruh pekerja yang dipecat merupakan pelinting atau pekerja sigaret kretek tangan. Jumlah mereka dalam status ini terus meningkat," kata Bhima.

Para pekerja tidak punya keahlian lain karena buruh pelinting adalah orang-orang berketerampilan rendah yang tidak bisa secara mudah mengganti pekerjaan.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah perlu memberi insentif pada industri penyerap tenaga kerja. Kebijakan afirmatif itu antara lain penerapan pajak, cukai, dan retribusi berbeda atau khusus dibanding sektor dengan daya serap tenaga kerja rendah.[tar]

Komentar

x