Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 20 September 2018 | 02:39 WIB

Soal Freeport

DPR Minta Jonan tak Sampaikan Informasi Abu-abu

Oleh : Indra Hendriana | Minggu, 1 Juli 2018 | 19:13 WIB

Berita Terkait

DPR Minta Jonan tak Sampaikan Informasi Abu-abu
(Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan bertandang ke Amerika Serika dan melakukan pertemuan dengan CEO Freeport McMoran Richard Adkerson.

Dalam pertemuan terbatas mereka membicarakan hal-hal terkait kelanjutan operasional tambang Freeport yang ada di tanah Papua.

Anggota Komisi VII DPR RI Ramson Siagian tidak permasalahkan soal pertemuan itu dilakukan di AS. Dia menekankan, yang terpenting ialah Indonesia mendapagkan saham 51 persen dan menjadi pengedali dari Freeport.

"Mau dimanapun (pertemuan itu dilakukan, yang penting), benar ga bahwa saham 40 persen (Rio Tinto) itu bahwa Indonesia akan miliki 51 persen (saham freeport) Itu aja. Bukan soal dimananya. Informasi yang diberikan ke rakyat benar enggak," kata Ramson dalam sambungan telepon, di Jakarta, Minggu (1/7/2018).

Menurut dia, yang paling penting itu adalah kepastian mengenai saham 51 persen saham pemerintah di PT Freeport bisa terealisasi. Pasalnya, Jonan tidak merincikan mengenai valuasi dari saham 51% dan siapa yang akan menjadi pengendalinya.

"Jangan seperti dulu katanya baru kali ini divestasi 51 persen berhasil tapi enggak jalan juga. Mau negosiasi di Alaska mau di bulan terserah. Jangan berikan informasi abu-abu," kata dia menegaskan.

Menteri Energi, dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan diketahui baru-baru ini bertandang ke Amerika Serikat (AS) dan bertemu dengan CEO Freeport McMoran Richard Adkerson.

Jonan mengklaim, hasil pertemuan terbatas itu semua kesepakatan telah selesai, yaitu soal kepastian usaha dan management control. Akuisisi juga sudah sepakat selesai, tinggal legal documentation dan Inalum.

Proses divestasi saham PT Freeport Indonesia sebesar 51% diklaim bisa rampung bulan Juni 2018. Semula, pemerintah berencana divestasi dilakukan dua tahap yakni dengan mengakuisisi saham Rio Tinto yang ada di tambang Grasberg, Papua, terlebih dulu. Belakangan, skema ini berubah menjadi satu tahap.

Namun, terkait berapa nilai valuasi yang akhirnya disepakati kedua belah pihak, baik Freeport maupun kementerian belum mau merinci.

Demikian juga terkait mekanisme pengelolaan tambang setelah pemerintah menjadi pemegang saham mayoritas belum dapt dirincikan. Jonan menegaskan Freeport dan pemerintah akan membuat Joint Venture yang sehat dan menyusun target bersama hingga 2041. [jin]

Komentar

x