Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Juli 2018 | 15:53 WIB
 

Buka Pasar Afrika, Enggar Berharap PTA RI-Tunisia

Oleh : - | Rabu, 4 Juli 2018 | 15:30 WIB
Buka Pasar Afrika, Enggar Berharap PTA RI-Tunisia
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) berkomitmen membuka akses pasar ke Benua Afrika. Salah satunya melalui perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia-Tunisia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, Rabu (4/7/2018), berharap, perjanjian tersebut bisa rampung pada 2018. Supaya bisa segera dimanfaatkan oleh pelaku usaha dari kedua negara. Di mana, Tunisia bisa dimanfaatkan Indonesia sebagai penghubung untuk memperluas ekspor ke pasar Afrika bagian utara dan Uni Eropa.

"Dalam kunjungan tersebut, saya juga bertemu dengan Perdana Menteri Tunisia Youssef Chahed. Beliau juga setuju PTA ditargetkan selesai tahun ini, yang kemudian nanti akan ditingkatkan menjadi FTA," kata Enggartiasto.

Kerja sama PTA tersebut diyakini akan mengurangi hambatan tarif sehingga dapat mendorong peningkatan hubungan perdagangan. PTA dianggap paling cocok untuk meningkatkan perdagangan antara kedua negara yang masih belum optimal.

Presiden Joko Widodo memberi perhatian khusus kepada benua Afrika, termasuk wilayah Maghribi yang selama ini belum digarap secara maksimal. Salah satunya adalah dengan menurunkan bea masuk agar perdagangan dan investasi semakin menggeliat.

Tunisia dapat menjadi hub bagi Indonesia untuk masuk ke pasar sejumlah negara di Afrika dan juga Eropa. Hal ini dapat dimanfaatkan pelaku usaha Indonesia untuk mengekspor produk ke Eropa melalui Tunisia, dan membuat produk Indonesia menjadi semakin lebih kompetitif.

Dengan Uni Eropa, Tunisia telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement) sejak 2008, sehingga tarif bea masuk dari Tunisia ke Eropa menjadi nol persen. Selama ini, tarif bea masuk produk Indonesia ke Tunisa masih relatif tinggi, padahal produk-produk Indonesia cukup kompetitif di pasar Tunisia.

Rata-rata tarif bea masuk Tunisia sebesar 9,3%, sedangkan Indonesia adalah 5,3%. Diharapkan cakupan pos tarif PTA yang akan dirundingkan tidak terlalu banyak, dan hanya yang penting bagi kedua negara sehingga akan lebih cepat berdampak saat diimplementasikan.

Pada tingkat teknis, kedua negara telah melakukan pertemuan pendahuluan (preliminary meeting) PTA pada 11 April 2018 di sela Indonesia-Africa Forum (IAF) di Bali. Pertemuan tersebut menyepakati dimulainya proses perundingan PTA pada bulan Juni 2018 di Tunis.

Pada 2017, tercatat ekspor produk nonmigas Indonesia ke Tunisia sebesar US$55,19 juta dan impor mencapai US$32,77 juta. Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan Tunisia sebesar US$22,42 juta.

Produk ekspor utama Indonesia ke Tunisia antara lain minyak kelapa sawit dan turunannya, minyak kelapa dan turunannya atau kopra, palm kernel, benang filamen sitetis, dan lainnya. [tar]

Komentar

x