Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 17 Juli 2018 | 10:22 WIB
 

KLHK Gelar Festival TN dan TWA di Candi Prambanan

Oleh : - | Kamis, 5 Juli 2018 | 14:38 WIB
KLHK Gelar Festival TN dan TWA di Candi Prambanan
(Foto: KementerianLHK)

INILAHCM, Jakarta- Menuju peringatan puncak Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), pada 10 Agustus mendatang, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE), menyelenggarakan Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTN TWA) di Candi Prambanan, 6-8 Juli 2018.

"Festival ini bertujuan agar masyarakat lebih mengenal keberadaan 54 TN dan 118 TWA yang tersebar di seluruh Indonesia, beserta potensi keindahan alamnya, keanekaragaman tumbuhan dan satwanya, serta berbagai atraksi wisata yang dimilikinya," tutur Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK), Ditjen KSDAE, Dody Wahyu Karyanto, Rabu (4/7/2018).

Beragam acara akan memeriahkan festival ini, seperti pameran yang diikuti oleh Balai Besar/Balai Taman Nasional dan Balai Besar/Balai Konservasi Sumber Daya Alam, serta berbagai pihak yang bergerak di wisata alam. Kegiatan FTN TWA terdiri dari talkshow dengan berbagai tema, festival seni dan budaya, festival film pendek, festival fotografi, National Park Travel Fair, Open Trip ke Taman Nasional, serta Marathon Mountain Bike TN Gunung Merbabu ke TN Gunung Merapi.

Pada kesempatan yang sama, Direktorat PJLHK juga akan meluncurkan beberapa produk layanan wisata alam di kawasan konservasi yaitu : aplikasi android "Wisata Alam Indonesia", jingle "Ayo Ke Taman Nasional", serta aplikasi tiket elektronik wisata konservasi.

"Masih banyak masyarakat yang kesulitan menemukan informasi yang tepat dan akurat mengenai TN dan TWA, sehingga kami membangun aplikasi informasi Wisata Alam Indonesia, yang dapat diunduh di Apps playstore, serta jingle Ayo Ke Taman Nasional akan membangun kelekatan pesan kita dengan produk-produk wisata yang sedang kami promosikan," lanjut Dody.

Menurut Dody, pesatnya pemakaian jaringan media sosial oleh masyarakat saat ini dapat meningkatkan efektivitas, dan memperluas jangkauan promosi dan publikasi. "Kami harap masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi mengenai wisata di kawasan konservasi, tentunya untuk membangun kesadaran wisatawan dalam mendukung konservasi, dan menghargai budaya lokal", paparnya kemudian.

Sementara itu, Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno, menuturkan, konservasi bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga mengharuskan keterlibatan pihak-pihak lain sebagai mitra. Keterlibatan masyarakat dalam promosi dan publikasi, dapat menjadi langkah strategis membantu pemerintah menjadikan kawasan konservasi sebagai salah satu sumber devisa dari sektor pemanfaatan jasa lingkungan.

"KLHK mencatat selama 2012 jumlah wisatawan nusantara naik dari 4,32 juta orang, menjadi 7,29 juta orang pada 2016. Selama 2012-2016 rata-rata jumlah wisatawan ke kawasan konservasi sebanyak 5,30 juta orang per tahun, yang tersebar di TN dan TWA. Mayoritas wisatawan nusantara berkunjung ke TWA, sedangkan wisatawan mancanegara lebih senang berkunjung ke TN," jelas Wiratno. [*]

Komentar

Embed Widget

x