Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 01:47 WIB

60 Tahun RI-Jepang

KLHK Paparkan Perubahan Kebijakan Kehutanan RI

Jumat, 6 Juli 2018 | 14:56 WIB

Berita Terkait

KLHK Paparkan Perubahan Kebijakan Kehutanan RI
(Foto: kbritokyo)

INILAHCOM, Tokyo - Kerjasama RI-Jepang ke depan diharapkan dapat ditingkatkan antara lain di bidang percepatan Perhutanan Sosial, pengembangan industri Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), efisiensi teknologi perkayuan, peningkatan infrastruktur Taman Nasional, pengelolaan danau, peningkatan perdagangan kayu legal dan percepatan pembangunan KPH serta kerjasama pendidikan dan pelatihan, termasuk juga pemagangan.

Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Hilman Nugroho Ibrahim mengatakan, kerja sama Indonesia Jepang yang sudah berlangsung selama 40 tahun sejak 1978, telah memberikan arahan kebijakan pembangunan kehutanan, di antaranya melalui proyek-proyek bantuan Japan International Cooperation Agency (JICA) maupun dari dana keproyekan International tropical Timber Organization (ITTO).

"Kerjasama ini diharapkan terus dilakukan seiring dengan transformasi kemajuan Indonesia dalam mengelola hutan dan lingkungannya sesuai dengan arah pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)," ujar Hilman Nugroho saat menjadi keynote speakers pada seminar perubahan kebijakan kehutanan di Indonesia bertajuk "Changing Paradigm of Forestry Policy In Indonesia: Toward Promotion of Community-based Sustainable Forest Management" di Auditorium Universitas Waseda, KBRI Tokyo, Kamis (28/7/2018).

Hilman menyampaikan bahwa saat ini Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan nyata dengan melibatkan masyarakat di sekitar hutan untuk mengelola dan menjaga hutan. Kebijakan saat ini lebih ditekankan pada peningkatan hasil hutan bukan kayu, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan kawasan, peningkatan nilai tambah kayu serta pengembangan industri kehutanan untuk menciptakan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sementara dalam sambutan pembukaannya, Wakil Duta Besar RI Mochamad Abas Ridwan menyampaikan, Indonesia dapat belajar dari sejarah panjang Jepang dalam mengelola hutannya sebagai role model. Pengelolaan hutan di Jepang menjadi sumber penghidupan (Mori wa Chikyu no Takaramono) dan ekonomi masyarakat setempat karena diberlakukan secara proporsional, harmonis dan modern dengan konsep keberlanjutan.

"Jepang merupakan mitra strategis, sehingga momentum 60 tahun hubungan bilateral dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kerjasama bidang kehutanan. Hubungan kedua negara diharapkan tidak lagi mengandalkan bantuan dan kerjasama teknis tapi lebih pada mitra kerjasama yang sejajar termasuk bekerjasama menangani isu-isu global," ujar Abas Ridwan. Ia juga menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah dan Publik Jepang atas bantuan dan kerjasama kehutanan yang telah terjalin selama ini.

Pada kesempatan ini, Direktur Jenderal PHPL KLHK secara simbolis menyerahkan Piagam berupa Prangko Edisi Khusus "Tanam dan Pelihara 25 Pohon Seumur Hidup" kepada Wakil Duta Besar RI Tokyo, Universitas Waseda dan Forestry Agency Jepang. Program "Tanam dan Pelihara 25 Pohon Seumur Hidup" ini dicanangkan Presiden Joko Widodo sebagai ajakan melakukan kegiatan penanaman pohon minimal 25 pohon per warga seumur hidu. Angka 25 berasal dari tanam 5 batang saat jenjang SD, 5 batang SMP, 5 batang SMU, 5 batang perguruan tinggi dan 5 batang saat menikah.

Seminar sehari ini menghadirkan 16 pembicara dari berbagai sumber, baik dari lingkup Pemerintah Indonesia yakni dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Pemerintah Jepang (Forestry Agency-MAFF), organisasi internasional Jepang (JIFPRO, JAFTA, Institute for Global Environmental Strategies/IGES), kalangan swasta (Sumitomo Forestry, APP Indonesia, YL Forest, PT. Rimba Makmur Utama); dan Lembaga Swadaya Masyarakat (Belantara Foundation, Tenkawang Network, More Trees, JEEF).

Pelaksanaan seminar ini merupakan kerjasama KBRI Tokyo dan berbagai lembaga/organisasi lainnya seperti Universitas Waseda, Forestry Agency (Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang, MAFF), Japan International Forestry Promotion and Cooperation (JIFPRO) dan Japan Forest Technology Association (JAFTA) dan W-BRIDGE (Waseda-Bridgestone Initiative for Development of Global Environment). [*]

Komentar

x