Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Juli 2018 | 16:11 WIB
 

Ekonom: Politik Gaduh Jangan Harapkan Investasi

Oleh : - | Senin, 9 Juli 2018 | 07:09 WIB
Ekonom: Politik Gaduh Jangan Harapkan Investasi
Ekonom Universitas Tanjungpura Pontianak, Prof Eddy Suratman - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Pontianak - Ekonom Universitas Tanjungpura Pontianak, Prof Eddy Suratman bilang, Indonesia perlu menjaga stabilitas politik. Agar investor tak ragu membenamkan mmodalnya ke Indonesia khususnya Kalimantan Barat.

"Menjelang pemilihan legislatif, lebih-lebih pemilihan Presiden tahun depan kita sering mendengar dan membaca isu di berbagai media yang mulai panas. Namun apabila situasi menjadi panas dan tak terkendali maka akan berbahaya terhadap keberlangsungan pembangunan ekonomi Indonesia," ujar Eddy di Pontianak, Sabtu (7/7/2018).

Menurut Eddy, pemerintah dan para tokoh untuk bisa mengendalikan hal tersebut, karena investor yang menanamkan modalnya di Indonesia juga mempertimbangkan kondisi politik yang mendukung kegiatan perekonomian.

Saat ini saja sudah mulai panas, terutama di media-media sosial dengan saling serang, hoaks dan hal yang kontraproduktif. Kalau begini terus iklim investasi bisa terganggu. Investor sekarang lebih banyak menunggu. Mereka baru akan melakukan aksi di tahun depan, ketika sudah mendapat kepastian siapa yang menang Pemilu, kata dia.

Ia menambahkan selain stabilitas politik, hal lain yang perlu diperbaiki adalah kemudahan izin usaha. "Usaha kita bersama untuk mempermudah izin harus terus dilakukan. Tenaga kerja akan terserap bila kegiatan usaha meningkat," katanya.

Oleh sebab itu sebut Eddy pentingnya upaya pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mempermudah izin usaha terus dijalankan.

"Soal infrastruktur sebagai penyokong utama kehadiran investasi, pemerintah sekarang sedang menggenjot hal itu dengan pembangunan di mana-mana," jelas dia.

Dikatakan Eddy faktor eksternal belakangan ini juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan investasi di Indonesia, termasuk Kalbar. "Harga dolar AS sudah tembus Rp14.000- an dan minyak dunia tembus 78 dolar As per barel. Tekanan terbesar berasal dari dolar, di mana semua negara kena imbasnya," jelas dia.

Potensi investasi yang ditawarkan terfokus pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah, Global Hub Bandar Kayangan di Kabupaten Lombok Utara. Selain itu, potensi Teluk Saleh, dan Teluk Bima, di Pulau Sumbawa. [tar]

Komentar

x