Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Juli 2018 | 02:34 WIB
 

Defisit Dagang, Airlangga Tunjuk Potensi Kaltim

Oleh : - | Senin, 9 Juli 2018 | 11:12 WIB
Defisit Dagang, Airlangga Tunjuk Potensi Kaltim
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Industri kimia amonium nitrat menjadi andalan dalam menekan defisit neraca perdagangan. Industri ini harus didorong untuk tumbuh pesat di Bontang, Kalimantan Timur.

"Kami dorong domestic market lebih optimal, dan terus digenjot untuk ekspor," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan pers kepada media di Jakarta, Senin (9/7/2018).

Saat ini, kata Airlangga, Kemenperin aktif memacu pengembangan sektor-sektor industri yang berpotensi untuk meningkatkan nilai ekspor. "Pemerintah telah menyusun solusi jangka menengah dan panjang, yakni melalui substitusi impor dan investasi, sedangkan jangka pendeknya seperti pembatasan impor amonium nitrat, karena industri di dalam negeri sudah mampu mencukupi," kata Airlangga.

Airlangga mengungkapkan, klaster industri kimia di Bontang, Kalimantan Timur, masih memiliki potensi besar untuk pengembangan produk hilir, seperti dimetil eter yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar pengganti LPG, pupuk majemuk berbasis amonium nitrat, soda ash, dan pupuk amonium klorida.

Selain itu, wilayah Kalimantan Timur juga memiliki prospek untuk pengembangan perkebunan sawit sebagai sumber bahan baku bagi klaster industri berbasis oleokimia sebagai solusi dari menurunnya harga sawit yang cukup signifikan akhir-akhir ini sehingga dapat mengatasi defisit neraca perdagangan.

"Kemampuan pengembangan tersebut dapat diwujudkan dengan jaminan pasokan gas bumi untuk domestik, kebijakan kuota impor untuk produk unggulan tertentu serta sinergi dengan pengembangan riset teknologi," papar Airlangga.

Kemenperin mencatat, kebutuhan gas bumi untuk industri yang beroperasi di Bontang, sebanyak 452 MMSCFD. Atau 59% dari penggunaan gas bumi domestik.

Hal ini perlu menjadi perhatian yang besar terhadap jaminan pasokan gas bumi jangka panjang dengan harga yang wajar. "Sehingga bisa menjaga kelangsungan seluruh aktivitas industri tersebut agar dapat lebih berkembang dengan struktur yang kokoh dan berkelanjutan," kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA), Achmad Sigit Dwiwahjono.

Namun demikian, kata Airlangga, saat ini, sekitar 804 MMSCFD gas dari wilayah Kalimantan Timur, diekspor ke luar negeri. Melihat kondisi tersebut dan memperhatikan pasokan gas alam yang cenderung menurun, Kemenperin mendorong pemanfaatan gas yang diutamakan untuk industri dalam negeri.

"Jadi, perlu menjaga agar tidak ada perpanjangan pasokan untuk kontrak penjualan gas bumi ke luar negeri. Dengan demikian, pasokan gas yang ada di Kalimantan Timur dapat diprioritaskan kepada kebutuhan domestik terutama kelangsungan industri petrokimia di Bontang," tegas Sigit. [tar]

Komentar

x