Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 05:56 WIB

Bos BI Ngaku Paling Siap Hadapi Perang Dagang AS

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 9 Juli 2018 | 14:09 WIB

Berita Terkait

Bos BI Ngaku Paling Siap Hadapi Perang Dagang AS
Gubernur BI, Perry Warjiyo

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengklaim siap menghadapi kemungkinan terburukd ari perang dagang yang ditabuhkan Presiden AS, Donand J Trump.

Kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, bank sentral terus memantau perkembangan informasi terkait perang dagang. Kalaupun perang dagang benar-benar terjadi, BI sudah punya langkah untuk menghadapinya. Dalam kerangka menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan moneter.

"Respons terhadap meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global itu mengharuskan sejumlah negara memastikan pasar keuangannya berdaya saing, termasuk yang kami lakukan dengan suku bunga kebijakan kemarin," kata Perry di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (9/7/2018).

Perry mengungkapkan, perang dagang yang diletupkan AS kepada China, tentu saja berdampak kepada sebagian besar dunia. Khususnya di sektor industri keuangan.

Semisal, perang dagang berdampak kepada penaikan suku bunga acuan di AS. Yang bisa memantik capital outflow atau penarikan modal dari negara-negara berkembang.

Selain merespons dampak perang dagang dengan menyesuaikan suku bunga acuan, BI juga terus mendorong agar permintaan domestik dalam sektor industri di Indonesia tetap tinggi.

Hal lain yang tak kalah penting adalah dengan menekan defisit transaksi berjalan hingga menarik arus modal asing masuk ke dalam negeri.

"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) serta kementerian terkait untuk memastikan ekonomi kita kuat dan mencari terobosan untuk mendorong sektor pariwisata dan ekspor produk yang berdaya saing," ujar Perry.

BI dalam tahun ini sudah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 3 kali, dengan total kenaikan 100 basis poin (bps) dari suku bunga sebesar 4,25% sejak awal 2018. Kini, suku bunga acuan menjadi 5,25% yang diberlakukan sejak 29 Juni 2018. [ipe]

Komentar

x