Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 04:24 WIB

Ekspor ke Aussie Naik, Manufaktur Memang Andalan

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 18 Juli 2018 | 03:09 WIB

Berita Terkait

Ekspor ke Aussie Naik, Manufaktur Memang Andalan
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Industri manufaktur berperan besar dalam mendongkrak ekspor Indonesia, salah satunya ke Australia.

Pada kuartal I-2018, ekspor RI ke Australia untuk sektor pengolahan tercatat naik hingga 18,7% menjadi US$399,3 juta. ASedangkan kuartal I-2017 bernilai UA$336,3 juta.

Saat ini, pemerintah tengah memacu nilai ekspor, terutama sektor industri manufaktur. "Sebab, sektor ini mampu memberikan kontribusi signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, serta menekan defisit perdagangan," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Menanjaknya ekspor industri manufaktur ini, kata dia, membawa kinerja ekspor RI ke Australia pada kuartal I-2018 juga ikut terkerek menjadi US$667,8 juta. Atau naik 13,1% jika dibandingkan kuartal I-2017.

Kenaikan ekspor sektor manufaktur ke Negeri Kanguru ini, didorong tumbuhnya beberapa komoditas yaitu elektronik, plastik dan produk plastik, produk logam, mesin-mesin, produk kayu, dan produk karet.

Sementara, peran besar industri dalam struktur ekspor RI, sangat terasa pada 2017 yang mampu menyumbang hingga 74,10%, setara US$125,02 miliar. Atau naik 13,14% dibanding 2016 sebesar US$109,76 miliar. "Negara tujuan ekspor utama kita antara lain adalah Amerika Serikat, China, Jepang, India, dan Singapura," kata Airlangga.

Secara keseluruhan, pada kuartal I-2018, industri manufaktur mencatatkan nilai ekspor sebesar US$32 miliar, atau naik 4,5% dibanding periode yang sama di tahun lalu sebesar US$30,6 miliar.

Adapun tiga sektor manufaktur dengan nilai ekspor terbesar yaitu industri makanan yang mencapai US$7,42 miliar, industri logam dasar US$3,68 miliar, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia US$3,25 miliar.

Menurut Airlangga, kemenperin turut mengakselerasi penyelesaian perundingan perdagangan bebas dalam kerangka Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). "Kerja sama bilateral yang komprehensif tentu akan mendongkrak ekspor produk RI ke Australia," ujarnya.

Saat ini, kata Ketum Golkar ini, Kementerian Perindustrian sedang menggenjot ekspor RI ke Australia melalui produk industri manufaktur berupa tekstil, pakaian, dan alas kaki. "Jadi, kami minta bea masuk produk tersebut bisa diturunkan, karena sekarang dikenakan tarif sebesar 10-17%. Kalau bisa dihapuskan atau menjadi 0%," papar Airlangga yang disebut-sebut sebagai kandidat potensial sebagai cawapres Joko Widodo ini.

Airlangga menyampaikan, pihaknya juga masih berkeinginan untuk meningkatkan ekspor RI ke Asutralia berupa kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) baik itu mesin yang menggunakan bahan bakar maupun elektrik. "Karena industri otomotif di sana tutup semua. Ini menjadi peluang bagi kita," ujar Airlangga.

Terkait mobil listrik tersebut, Australia masih meminta agar produk yang masuk ke negaranya adalah kendaraan dengan komponen lokal yang berasal dari kawasan Asean mencapai 40%, sementara Indonesia mengusulkan sekitar 20%-30%. "Nah, itu yang masih dinegosiasikan," ucap Menperin.

Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan menyatakan, peluang ekspor kendaraan Indonesia ke pasar Australia cukup besar.
Terlebih lagi, sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0, industri otomotif merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang diprioritaskan menjadi percontohan pada tahap awal untuk implementasi industri 4.0 di tanah air.

"Dalam roadmap tersebut, pemerintah akan memacu industri otomotif nasional agar mampu menjadi champion untuk ekspor kendaraan ICE (internal combustion engine/mesin pembakaran dalam) dan EV (electric vehicle/kendaraan listrik)," jelasnya. [ipe]

Komentar

x