Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 15 Agustus 2018 | 14:26 WIB

Rokok Boleh Mahal Peminatnya Tidak Turun

Oleh : - | Rabu, 18 Juli 2018 | 12:09 WIB
Rokok Boleh Mahal Peminatnya Tidak Turun
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Dalam lima tahun ini, harga rokok di Indonesia mulai mahal sejak lima tahun terakhir ini. Harganya makin kurang terjangkau. Namun peminatnya tetap saja tinggi.

"Kalau secara nominal absolut memang murah, namun kalau kita mempertimbangkan daya beli, harga rokok di Indonesia sudah mahal," kata Kepala Sub Direktorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai, Deni Surjantoro di Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Deni menjelaskan, kenaikan harga rokok yang terlalu signifikan, berdampak negatif terhadap kelangsungan industri rokok di tanah air. "Jangan sampai kebijakan yang dibuat menjadi pemantik naiknya rokok ilegal. Kalau kita menggenjot yang terdaftar secara berlebihan, maka yang tidak terdaftar justru berkembang," ujar Deni.

Hal senada dilontarkan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara. Dia bilang, naiknya harga rokok yang signifikan mengubah perilaku konsumen untuk mengonsumsi rokok yang murah. Artinya, jumlah penghisap rokok bukan berarti turun meski makin mahal.

"Dengan dalih jika harga rokok dinaikkan bahkan lebih dari Rp50 ribu lalu seolah-olah konsumsi rokok akan menurun. Yang paling berbahaya justru meningkatnya peredaran rokok ilegal," kata Bhima.

Bhima mengatakan, saat ini ada yang salah kaprah dalam menilai harga rokok di Indonesia tergolong murah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, Bhima menjelaskan, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia, tergolong tinggi. Angkanya mencapai 2,9%. Sementara di Singapura dan Malaysia lebih rendah, masing-masing 1,5% dan 2%.

"Di Singapura terbukti bahwa harga rokok yang kita anggap mahal ternyata masih dalam jangkauan daya beli penduduk Singapura," ucap Bhima.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi menegaskan, harga jual sebatang rokok di Indonesia merupakan yang tertinggi setelah dibandingkan dengan pendapatan per kapita per hari masyarakat.

"Secara nominal harga rokok di Indonesia memang relatif lebih rendah daripada Singapura atau negara maju lain. Tapi kalau kita bandingkan secara relatif terhadap pendapatan per kapita per hari, sebenarnya harga jual satu batang rokok kita termasuk yang tertinggi," ucap Heru.

Harga jual rokok di Indonesia, sebesar 0,8% dari produk domestik bruto (PDB) per kapita per hari. Angka ini terbilang tinggi ketimbang negara maju, seperti Jepang. Di Negeri Sakura itu, harga rokok 0,2% dari PDB per kapita per hari. "Memang nominalnya lebih murah dibandingkan negara-negara maju. Tapi harus kita ingat semua, itu kan dikendalikan juga dari daya beli," tutup Heru. [tar]

Komentar

x