Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 15 Agustus 2018 | 14:24 WIB

Rupiah Makin Ambruk, Ini Kata Petinggi BI

Oleh : - | Sabtu, 21 Juli 2018 | 11:00 WIB
Rupiah Makin Ambruk, Ini Kata Petinggi BI
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara - (Foto: Riset)

INILAHCOM, Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara menilai, tekanan global memengaruhi pergerakan dolar AS termasuk rupiah.

"Situasi globalnya masih menimbulkan tekanan di negara-negara 'emerging market'," kata Mirza saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat malam (20/7/2018).

Mirza menjelaskan, penyebab terjadinya gejolak kurs ini, tidak hanya disebabkan respons pasar dalam menanggapi membaiknya data perekonomian di AS. Namun juga karena perlemahan mata uang China, Yuan.

Meski demikian, tambah dia, depresiasi mata uang terhadap US$ ini, tidak hanya dialami oleh rupiah, namun juga dengan mata uang Polandia, Brasil, Meksiko dan India.

"Tidak harus dibandingkan dengan Argentina dan Turki yang melemahnya sampai 20 persen, tapi India, Polandia dan Chili, semua perlemahannya bahkan lebih dalam dari Indonesia," katanya.

Menurut Mirza, perlemahan rupiah saat ini tidak begitu dalam dibandingkan mata uang negara-negara tersebut, karena kondisi pasar keuangan Indonesia sudah lebih kuat dan stabil dalam menghadapi tekanan eksternal.

"BI sudah menaikkan suku bunga 100 bps. Pasar keuangan Indonesia sudah cukup menarik dilihat dari 'interest rate'. Terhadap India, kita sudah lebih baik. Kalau dilihat dari 'fair value' dari rupiah juga sekarang sudah menarik," ujarnya.

Dalam kondisi ini, upaya yang bisa dilakukan pemerintah dalam jangka menengah panjang adalah dengan memperbaiki iklim berusaha untuk mendorong ekspor sebagai bagian dari rencana untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan.

Ia menyakini apabila kondisi sudah normal dan berbagai sentimen negatif itu telah hilang, maka para pelaku pasar akan kembali menanamkan modal ke Indonesia dan kurs rupiah kembali stabil, apalagi kondisi fundamental saat ini telah terjaga dengan baik.

"Kalau sudah kembali normal, pasar akan melihat kembali kepada fundamental Indonesia. Fundamental kita fiskalnya sehat, defisit APBN 2,2 persen. Kondisi perbankan juga sehat," kata Mirza.

Dikutip dari Reuters, perdagangan Jumat (20/7/2018), kurs US$ bergerak di level Rp14.500 hingga Rp14.555 per US$. Ini posisi tertinggi dalam tiga tahun terakhir, di mana pada akhir perdagangan kemarin ditutup Rp14.519/US$.

Bila ditarik dari rentang awal tahun 2018, laju rupiah itu terpantau dalam tren pelemahan yang cukup dalam. Awal tahun 2018, US$ masih berada di rentang Rp13.300-Rp13.400. Kini mata uang Garuda kebanggaan Indonesia malah semakin ambruk. [tar]

Komentar

x