Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 14 Desember 2018 | 20:56 WIB

PDB 2018 akan Bisa di Bawah Tahun 2017

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 23 Juli 2018 | 19:42 WIB

Berita Terkait

PDB 2018 akan Bisa di Bawah Tahun 2017
Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah tampaknya mulai pesimistis dengan target Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2018 yang dipatok sebesar 5,4%. Pasalnya target yang awalnya dibilang realistis tersebut, kini akan sulit tercapai melihat kondisi ekonomi saat ini.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani menyebut pada semester II-2018 pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%, sementara pada semester I-2018 ini pemerintah memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi mentok di 5,1%.

Jika dihitung secara full year sampai akhir 2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai 5,2% saja. Jadi, tentunya ini lebih rendah dari target yang dipatok dalam APBN 2018 sebesar 5,4%.

"Bila tercapai maka estimasi pertumbuhan ekonomi dalam satu tahun mencapai 5,2%, tentunya lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, tapi lebih kecil dari target APBN sebesar 5,4%," kata Askolani saat rapat dengan Anggota Badan Anggaran DPR, Jakarta, Senin (23/7/2018).

Padahal saat penyusunan draft APBN 2018 pada Agustus 2017 lalu di DPR, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sangat optimistis dengan target yang ingin dicapainya tersebut.

Pada waktu, itu, pemerintah meyakinkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4% tetap realistis.

"Angka (5,4%) tersebut memang optimistis, namun tetap realistis," kata Sri Mulyani kala menyampaikan Jawaban Pemerintah atas Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPR terhadap Rancangan Undang-undang tentang APBN Tahun Anggaran 2018 beserta Nota Keuangannya dalam Rapat Paripurna DPR, Agustus tahun lalu.

Menurut Sri Mulyani, pencapaian target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 didukung oleh kinerja pertumbuhan ekonomi domestik yang hingga kini relatif stabil dan cenderung menguat.

Selain itu, lingkungan perekonomian global diharapkan mulai tumbuh dan terjaga risikonya pada tahun ini. Hal ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan tumbuh sebesar 3,6% dan rata-rata pertumbuhan di negara-negara berkembang 4,8% sebagaimana proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF).

Namun alih-alih berharap pada kondisi ekonomi yang baik tersebut, namun faktanya saat ini kondisi ekonomi tak jauh berbeda dengan tahun 2017. Askolani menyebut bahwa saat ini kondisi ekonomi global sangat berfluktuasi, apalagi dengan sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang sangat kontraproduktif.

"Hal ini tak terlepas dari situasi perekonomian global yang masih sulit diprediksi, kebijakan moneter dan perdagangan AS telah berimbas negatif di pasar keuangan banyak negara, termasuk Indonesia," kata Askolani.

Meski begitu Askolani optimis bahwa target pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai pemerintah dapat terwujud, meskipun tak sesuai dengan target dalam APBN 2018.

Askolani menyebut untuk bisa mencapai angka pertumbuhan 5,3% di semester II-2018, pemerintah menargetkan pertumbuhan konsumsi minimal harus berada di level 5,1%.

Selain itu, pertumbuhan investasi yang terekam dalam Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) pada semester I yang sebesar 8% minimal perlu dipertahankan.

Dirinya yakin investasi akan terus tumbuh sejalan dengan upaya pemerintah yang telah memberikan berbagai suntikan insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan lain sebagainya. Di sisi lain, impor juga tumbuh namun ini bisa diartikan ekonomi makin bergerak.

Selain itu, pelemahan kurs juga memberi nilai positif bagi ekspor. Meski di saat yang sama tentu akan meningkatkan impor. Maka, lanjut dia, perlu diwaspadai terhadap defisit neraca transaksi berjalan agar perekonomian menjadi seimbang.

Komentar

x