Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 21 Oktober 2018 | 01:16 WIB

Inilah Beban Pertumbuhan Ekonomi 2018

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 24 Juli 2018 | 16:05 WIB

Berita Terkait

Inilah Beban Pertumbuhan Ekonomi 2018
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi pada semester II-2018 diprediksi masih akan tumbuh flat di angka 5%, sejumlah insentif yang diberikan pemerintah tampaknya belum mampu mengerek laju pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut, terutama terkait daya beli masyarakat yang masih lesu.

Hal tersebut dikatakan Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada, A Tony Prasetiantono saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (24/7/2018). "Masih flat kayaknya sekitar 5% antara 5-5,1%. Karena belum ada insentif untuk atau belum ada faktor yang bisa membuat konsumen berbelanja lebih banyak," kata Tony.

Padahal kata dia, seharusnya momentun lebaran kemarin memberikan efek besar terhadap daya beli, namun sayangnya masyakat masih saja enggan untuk berbelanja lebih banyak dan lebih memilih untuk menabung.

Ditambah lagi nilai tukar rupiah yang melemah, faktor ini sudah cukup meyakinkan masyarakat untuk tidak berbelanja lebih, karena kebutuhan barang, terutama barang impor harganya ikut terkerek naik.

"Tapi lebaran kemarin orang tidak terlalu semangat berbelanja karena berbagai masalah, termasuk sekarang ini salah satu problemnya adalah dolar menguat, rupiah melemah itu kan buat beberapa barang yang mengandung impor pelan-pelan akan naik itu yang buat daya beli masih lesu," katanya.

Sebelumnya, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester II-2018 bisa mencapai angka 5,3%, sehingga sepanjang tahun ini target yang bisa dicapai pemerintah hanya 5,2%, angka ini tentunya dibawah target yang ditetapkan pemerintah dalam APBN 2018 sebesar 5,4%.

"Target pertumbuhan ekonomi di Semester II-2018 sebesar 5,3%, bila tercapai maka estimasi pertumbuhan ekonomi dalam satu tahun mencapai 5,2%, tentunya lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, tapi lebih kecil dari target APBN sebesar 5,4%," kata Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani saat rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Jakarta, Senin (23/7/2018).

Askolani menyebut untuk bisa mencapai angka pertumbuhan di semester II-2018 tersebut, pemerintah menargetkan pertumbuhan konsumsi minimal harus berada di level 5,1%.

Selain itu, pertumbuhan investasi yang terekam dalam Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) pada semester I yang sebesar 8% minimal perlu dipertahankan.

Dirinya yakin investasi akan terus tumbuh sejalan dengan upaya pemerintah yang telah memberikan berbagai suntikan insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan lain sebagainya. Di sisi lain, impor juga tumbuh namun ini bisa diartikan ekonomi makin bergerak.

Selain itu, pelemahan kurs juga memberi nilai positif bagi ekspor. Meski di saat yang sama tentu akan meningkatkan impor. Maka, lanjut dia, perlu diwaspadai terhadap defisit neraca transaksi berjalan agar perekonomian jadi seimbang. [hid]

Komentar

x