Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 17 Agustus 2018 | 04:54 WIB

Pendukung Jokowi Tagih Pengembangan EBT

Oleh : Indra Hendriana | Sabtu, 28 Juli 2018 | 05:29 WIB
Pendukung Jokowi Tagih Pengembangan EBT
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Sekjen Projo (Ormas Pro Jokowi), Handoko mengingatkan pemerintah segera mewujudkan energi baru dan terbarukan (EBT). Jangan hanya bersandar kepada pembangkit setrum berbahan baku fosil.

Kata Handoko, untuk itu paradigma pengelolaan energi juga harus diubah. "Paradigmanya harus diubah yakni dari energi sebagai komoditas menjadi energi sebagai penggerak roda ekonomi," kata Handoko di Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Menurut Handoko yang dikenal sebagai pemerhati energi, sumber EBT di dalam negeri, sangat berlimpah, sehingga sudah selayaknya dimanfaatkan secara maksimal. Hanya saja, kendala juga besar. Misalnya, masih mahalnya teknologi EBT, serta tingginya kandungan impor.

Handoko mengatakan, agar EBT bisa berkembang pesat maka penguasaan teknologi menjadi syarat mutlak. Sehingga ketergantungan terhadap impor bisa ditekan.

Dari sisi energi primer, kata dia, saat ini, lebih dari 70% pembangkit listrik di Indonesia, menggunakan minyak bumi dan batubara. "Melimpahnya batubara dalam negeri membuat PLTU Batubara (Coal Fired Power Plant/ CFPP) menjadi kontributor terbesar dalam konfigurasi pembangkit kita. Memang dalam jangka pendek, PLTU Batubara bisa menjadi solusi penyediaan energi listrik yang terjangkau dari sisi harga," ujar Handoko

Tentu saja, ketergantungan Indonesia terhadap pembangkit setrum berbahan bakar minyak bumi atau batubara, perlu dikurangi. lantaran, keberadaan kedua sumber energi itu terus menipis.

Apalagi, volatilitas harga minyak dunia kini, bergerak dinamis dan selalu berkaitan dengan harga komoditas batubara. Kondisi ini tentunya memengaruhi cost produksi atau harga listrik.

"Bayangkan saja, tiba-tiba harga minyak dunia melaju hingga US$100 per barel, tentunya biaya produksi listrik akan meningkat tajam," ujar dia.

"Beda kondisinya kalau Indonesia mengandalkan penggunaan listrik yang pembangkitnya digerakkan oleh tenaga angin, air, atau juga tenaga matahari dan panas bumi," ujar Handoko.

Menyinggung soal belanja modal (Capex/ Capital Expenditure), kata Handoko, pembangkit listrik EBT masih lebih mahal dari pembangkit energi fosil. PLTP (geothermal), misalnya, bisa menelan investasi US$4 juta per MW. Jauh di atas PLTU Batubara yang sekitar US$1,5 juta hingga US$2 juta per MW.


"Seperti listrik yang berasal dari PLTP, fase eksplorasi sumber energi sudah memakan biaya sangat besar. Harus memakai teknologi tinggi dan mahal, ditambah lagi dengan success rate yang rendah. Ketika anda mengeksplorasi sebuah lapangan geothermal dan melakukan pengeboran, tingkat keberhasilannya tak lebih dari 20 persen," papar Handoko.

Demikian juga investasi yang dibutuhkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS/ Solar Cell) sangat besar. Sebab untuk pembangunan PLTS dibutuhkan investasi sekitar Rp28 miliar, di mana komponen terbesarnya adalah pada biaya produksi panel surya dan baterai. Selain itu, PLTS juga membutuhkan area yang sangat luas, serta hanya dapat beroperasi di siang hari.

"Tapi saya yakin, akselerasi pemanfaatan Solar Cell semakin masif, seiring dengan semakin majunya teknologi panel surya dan baterai," tambahnya. [ipe]

Komentar

x