Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 21 November 2018 | 11:53 WIB

Kenapa Pemerintah Cabut DMO Batu Bara Bagi PLN?

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 30 Juli 2018 | 13:09 WIB

Berita Terkait

Kenapa Pemerintah Cabut DMO Batu Bara Bagi PLN?
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah diminta mengurungkan niat untuk mencabut kewajiban batu bara untuk pasokan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO), bagi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Demikian disampaikan Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmi Radhi. Menurut dia, alasan pembatalan DMO untuk mendongkrak nilai ekspor batu bara guna menambah devisa karena transaksi berjalan Indonesia defisit, kurang bisa diterima.

"Alasan yang dikemukakan Luhut sesungguhnya mengada-ada. Pasalnya, ketentuan DMO Produksi batu bara hanya 25% dari total penjualan. Sedangkan 75% masih tetap bisa diekspor dengan harga pasar," kata Fahmi dalam pesan singkat, Jakarta, Minggu (29/7/2018).

Menurut dia, penambahan devisa dari ekspor 25% dari DMO, dinilai sangat tidak signifikan. Bahkan, ia memperkirakan tak ada tambahan devisa untuk mengurangi defisit nercara pembayaran.

Dimana berdasar data Kementerian ESDM, total produksi batu bara pada 2018 diperkirakan sebesar 425 juta metric ton, harga pasar batu bara pada Juli 2018 sebesar US$ 104,65 per metric ton. Nah, 25 % nya adalah 106 juta metric ton.

"Kalau penjualan 25% kepada PLN atau sebesar 106 juta metric ton dijual dengan harga pasar, maka tambahan pendapatan pengusaha batu bara naik menjadi sebesar US$ 11,12 miliar (106 juta metric ton X US$ 104,65)," ujar dia.

Namun, jika menggunakan harga DMO US$ 70 per metric ton, pendapatan penguasaha turun menjadi US$ 7,44 miliar (106 juta X US$ 70). Selisih perbedaan harga tersebut sebesar US$ 3,68 miliar (US$ 11,12-US$ 7,44).

"Menurut Bank Indonesia, defisit neraca pembayaran selama 2018 diperkirakan sebesar US$ 25 miliar, maka selisih harga itu tidak signifikan," kata dia.

Kemudian, kata dia, berdasarkan pernyataan Wakil Menteri ESDM Achandra Tahar bahwa bukan DMO Produksi 25% yang dicabut, tetapi cap DMO harga US$70 yang akan dibatalkan. Artinya, pengusaha batu bara tidak mengekspor seluruh total produksi batu bara, tapi tetap menjual ke PLN sebesar 25% produksi atau sekitar 106,25 juta metric ton.

Tapi, kata dia, menjual ke PLN dengan harga pasar US$ 104,65, bukan harga DMO US$ 70 per metric ton. Kalau benar yang dikatakan oleh Achandra, tidak akan ada tambahan devisa dari pendapatan ekspor, melainkan penambahan pendapatan pengusaha batu bara dari PLN, yang berasal dari kenaikan harga jual dari US$ 70 naik menjadi 104,65.

"Dengan demikian, pembatalan DMO harga batu bara tidak menghasilkan tambahan devisa sama sekali, kecuali hanya menambah pendapatan pengusaha batu bara, sekaligus menambah beban biaya bagi PLN," kata dia. [hid]

Komentar

Embed Widget
x