Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 23 September 2018 | 10:29 WIB

Perubahan DMO Batubara Berlaku Tahun Depan

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 30 Juli 2018 | 20:01 WIB

Berita Terkait

Perubahan DMO Batubara Berlaku Tahun Depan
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan mengatakan perubahan kewajiban batu bara untuk pasokan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) untuk pembangkit listrik nasional masih dikaji.

Luhut mengatakan, sampai saat ini belum ada keputusan pencabutan DMO batu bara. Pemerintah masih menghitung untung rugi rencana itu bersama intsansi terkait, seperti PT PLN, Kemenkeu, KESDM, beserta asosiasi batu bara dan Kadin.

"Jadi, kami mau lihat peluang (itu), berapa besar uang yang bisa kita dapat dari sini. Karena kita butuh ekspor kan ini. Nah ini kita lagi hitung," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Senin (30/7/2018) sore.

Menurut dia, kalaupun pencabutan DMO benar terjadi, maka tak akan langsung diterapkan. Karena butuh waktu untuk membuat aturan baru dan sosialisasi mengenai aturan itu, dan dampak kepada penerimaan negara.

"Kalaupun jadi, paling tahun depan (2019) baru bisa (diterapkan). Karena butuh sosialisasi, aturan-aturan. Kami hitung dulu, berapa banyak dampaknya pada penerimaan negara," ujar dia.

Dengan begitu, dia meminta pada pengusaha batu bara untuk tetap memasok ke PLN. Sebab, aturan itu masih dilakukan kajian.

Sebelumnya, Pemerintah berencana mencabut kewajiban khusus memasok kebutuhan pasar domestik (DMO) batu bara. Ini dilakukan dengan alasan menyelamatkan keuangan negara, dengan mengandalkan ekspor komoditas yang harganya tengah melambung.

"Intinya kami mau cabut DMO itu seluruhnya, jadi nanti akan diberikan US$ 2-3 per ton untuk...seperti sawit," kata Menko Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan, di kompleks Istana Negara, Jumat (27/7/2018).

Luhut mengatakan, kebijakan ini dipertimbangkan setelah pemerintah melihat perkembangan dan masukan dari pasar. "Kami evaluasi dan kami lihat ini yang terbaik," katanya.

Menurutnya skema DMO dan pembatasan harga selama ini juga tidak begitu efektif, karena rata-rata produksi batu bara masuk dalam kategori kalori tinggi yakni sekitar 5000 kalori. Sementara yang dibutuhkan oleh PLN adalah kalori rendah.

"Akhirnya ada beli beli kuota (transfer kuota). Nantinya tidak akan bagus, pasti ada trading-trading tidak jelas," kata dia. [hid]

Komentar

x