Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 Agustus 2018 | 09:11 WIB

Rupiah & SBN Terjepit, Sri Mulyani Tambah Galau

Oleh : - | Rabu, 1 Agustus 2018 | 07:09 WIB
Rupiah & SBN Terjepit, Sri Mulyani Tambah Galau
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencermati adanya tekanan pada nilai tukar dan Surat Berharga Negara (SBN) di triwulan II-2018.

Tekanan itu berasal dari ekspektasi lanjutan kenaikan suku bunga acuan The Fed dan sentimen perang dagang AS dengan mitra dagang utama. "Risiko ini bersumber dari spillover kenaikan lanjutan fed fund rate dan perang dagang AS dengan mitra dagang utama," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selaku Ketua KSSK dalam jumpa pers perkembangan sistem keuangan triwulan II-2018 di Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Ikut hadir dalam jumpa pers rapat berkala KSSK ini Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Halim Alamsyah.

Dalam mengantisipasi ketidakpastian ekonomi global tersebut, Sri Mulyani menyampaikan, KSSK telah melakukan penilaian dan mitigasi berbagai potensi risiko yang dapat menganggu stabilitas sistem keuangan. "KSSK berkomitmen memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah meningkatnya tekanan global," ujarnya.

Dalam periode ini, pergerakan nilai tukar rupiah ikut tercatat rata-rata sebesar Rp14.420 per dolar AS. Atau mengalami perlemahan 6% secara year to date. Lebih rendah dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brasil dan Turki.

Meski demikian, berdasarkan pemantauan lembaga anggota KSSK terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan dan penjaminan simpanan selama triwulan II-2018, KSSK menyimpulkan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga meski terdapat tekanan global.

Kondisi ini terlihat dari tingkat inflasi terjaga, likuiditas sistem keuangan yang mencukupi, cadangan devisa yang masih memadai, tingkat defisit APBN yang terkendali, surplus keseimbangan primer, kinerja perbankan yang membaik, peningkatan pertumbuhan kredit dengan tingkat risiko terkendali serta permodalan perbankan yang kuat.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menambahkan, hingga Juni 2018, rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan tercatat 2,67%, rasio kredit bermasalah (NPF) perusahaan pembiayaan 3,15% dengan posisi permodalan (CAR) perbankan 21,9%, seiring terjadinya peningkatan pemberian kredit.

Namun, dalam bidang pasar modal dan lembaga keuangan, OJK mencermati terjadinya tekanan eksternal yang terjadi pada kinerja pasar keuangan domestik, terlihat dari IHSG pada triwulan II-2018 secara umum mengalami perlemahan yang diiringi dengan aksi jual nonresiden.

Dalam periode ini, penghimpunan dana di pasar modal juga tercatat mencapai Rp108 triliun, dengan emiten baru tercatat pada Juni 2018 mencapai 31 perusahaan, atau lebih banyak dari periode Januari-Mei 2018 yang hanya tercatat sebanyak 18 perusahaan.

"OJK akan terus memantau dinamika perekonomian global serta dampaknya terhadap likuiditas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan nasional, dan akan mengambil kebijakan yang tepat apabila tekanan di pasar keuangan terus berlanjut," ujar Wimboh.

Menurut rencana, KSSK kembali akan menyelenggarakan rapat berkala pada Oktober 2018. [tar]

Komentar

x