Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 02:39 WIB

RHL 2019: Menanam dan Membangun Hutan

Kamis, 2 Agustus 2018 | 14:01 WIB

Berita Terkait

RHL 2019: Menanam dan Membangun Hutan
(Foto: KementerianLHK)

INILAHCOM, Bogor - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan menerapkan langkah-langkah korektif (corrective actions) pada kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di 2019. Hal itu dilakukan untuk mendukung keberhasilan penanaman,

"KLHK melalui Ditjen PDASHL telah menyusun operasionalisasi corrective actions, yang merupakan arahan Presiden dan Menteri LHK. Aksi disini bukan hanya untuk menanam, tetapi juga membangun hutan," tutur Direktur Konservasi Tanah dan Air, Muhammad Firman, saat mewakili Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL), membuka Workshop Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI), di Bogor (1/8/2018).

Menurut Firman, pada 2019, KLHK memiliki target Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) sebesar 230.000 Ha. Sasaran RHL difokuskan pada lahan kritis dalam kawasan hutan, di 65 Daerah Tangkapan Air (DTA) Waduk/Bendungan, 15 DAS Prioritas dan 15 Danauprioritas, serta daerah rawan bencana.

"Dua kebijakan utama dalam corrective actions dimaksud adalah, lokasi RHL harus berada di dalam kawasan hutan, dimana terdapat pengelola hutan atau pemangku hutan, serta tidak adanya pembatasan jenis tanaman RHL, yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan keinginan masyarakat," jelas Firman.

Ditambahkan pula, pengelolaan kawasan hutan yang dimaksud bukan merupakan wilayah konsesi, akan tetapi merupakan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), kawasan konservasi, dan lokasi Perhutanan Sosial.

Sementara keberadaan pemangku kawasan dipandang Firman sangat penting, untuk mendukung optimalisasi pemantauan dan pemeliharaan penanaman. Pelibatan masyarakat dalam pemilihan jenis tanaman tanaman keras, maupun tanaman MPTS/HHBK, dimaksudkan agar pelaksanaan RHL berhasil.

"Pemilihan jenis tanaman ini merupakan implementasi perencanaan partisipatif, sehingga masyarakat diakomodir kebutuhannya, dan bersemangat untuk melakukan inovasi dalam penanaman," lanjut Firman optimis.

Dengan kemampuan rata-rata RHL melalui danaAPBN sebesar 200.000 Ha per tahun, sedangkan target RHL per tahun adalah sebesar 1,1 juta, diakui Firman, memerlukan dukungan dari seluruh pihak, baik masyarakat, pemerintah daerah, maupun pihak swasta.

"Masyarakat harus dipandang sebagai asetsosial bukan sebagai perambah sehingga harus didayagunakan. RHL dirancang tidak hanyauntuk tujuan ekologis tapi juga untuk tujuan ekonomi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, yaitu dengan pemanfaatan HHBK baik melalui skema perhutanan sosial maupunkemitraan," Firman menerangkan. [*]

Komentar

x