Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 19 Oktober 2018 | 00:08 WIB

Maling Ikan Rusia Didenda Rp200 Juta, Susi Setuju

Sabtu, 4 Agustus 2018 | 03:19 WIB

Berita Terkait

Maling Ikan Rusia Didenda Rp200 Juta, Susi Setuju
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti - (Foto: Inilahcom/Didik Setiawan)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berjanji tidak mau kompromi dengan segala bentuk penangkapan ikan ilegal yang dilakukan di kawasan perairan nasional.

"Indonesia sangat tegas dan tidak berkompromi terhadap kejahatan penangkapan ikan secara ilegal," kata Menteri Susi di Jakarta, Jumat (3/8/2018).

Susi menegaskan hal tersebut terkait keputusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sabang, Aceh, memberikan denda kepada warga negara Rusia, Matveev Aleksandr. Di mana, Matveev Aleksandr merupakan kapten kapal ikan STS-50, kapal penangkap ikan ilegal berbendera asing yang menjadi buronan Interpol.

Pemilik Maskapai Susi Air ini menegaskan, apapun bentuk penangkapan ikan ilegal adalah pengabaian terhadap kedaulatan suatu negara. Kalau terjadi di Indonesia, perlu diberi tindakan tegas. Terkait keputusan denda itu, Susi menyebutnya sebagai putusan progresif. Tujuannya positif untuk menghentikan aktivitas pencurian ikan di Indonesia.

Sementara, Plt Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP, Nilanto Perbowo mengemukakan, kapal STS 50 terbukti melakukan penangkapan ikan ilegal di sejumlah perairan, sempat melarikan diri dari Mozambik dan China. Pada akhirnya kapal ini dicokok TNI Angkatan Laut.

Sebelumnya, Majelis Hakim PN Sabang menjatuhkan hukuman pidana denda kepada Nahkoda Kapal STS-50, Matveev Aleksandr (56), warga negara Rusia senilai Rp200 juta.

Hakim Ketua Zulfikar membacakan amar putusan pada Kamis (2/8/2018), terdakwa Matveev Aleksandr terbukti secara sah dan menyakinkan, bersalah melakukan tindak pidana perikanan di wilayah perikanan RI.

Apabila denda tidak dibayar, maka Matveev harus mendekam di Hotel Prodeo selama empat bulan. Disebutkan bahwa Matveev mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang tidak memiliki izin penangkapan selama berada di wilayah perikanan RI.

"Barang bukti berupa satu unit Kapal FV STS-50, peralatan kapal alat GPS beserta perlengkapannya, 150 buah alat tangkap bubu, alat tangkap jaring gill net 600 buah siap pakai dirampas untuk negara," kata Zulfikar.

Kapal STS-50 dan IMO 8514772 buronan Interpol bersama 30 ABK, ditangkap Kapal Angkatan Laut (KAL) Simeulue dibawah koordinasi TNI-AL Lanal Sabang, Provinsi Aceh di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia pada 6 April 2018. [tar]

Komentar

x