Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 14 Desember 2018 | 21:00 WIB

Enggar Janjikan Kerek Ekspor dari Perang Dagang AS

Sabtu, 4 Agustus 2018 | 13:15 WIB

Berita Terkait

Enggar Janjikan Kerek Ekspor dari Perang Dagang AS
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya memanfaatkan peluang dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China. Masih ada celah untuk mempertebal cadangan devisa (cadev) bagi Indonesia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, mengatakan, perang dagang antara AS dan China, membuka peluang bagi Indonesia dengan mengisi kekosongan produk yang diimpor kedua negara. Bisa digantikan oleh produk dari Indonesia. "Mengisi kekosongan produk-produk China di Amerika yang sesuai dengan produksi dalam negeri, juga peluang yang bisa diambil di China atas kekosongan produk dari Amerika," kata Enggar, sapaan akrab Mendag, Jumat (3/8/2018).

Presiden Donald Trump menerapkan tarif pajak tinggi terhadap barang-barang impor dari China. Retaliasi tersebut dibalas China dengan mengurangi pembelian sejumlah produk asal negeri Paman Sam itu.

Dari kondisi tersebut, ada peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan produk, baik di AS maupun di China. Selain itu, Indonesia berkepentingan untuk menggenjot ekspor, dalam upaya untuk memperkuat cadev.

Selain melihat peluang tersebut, Indonesia tetap berupaya untuk membuka pasar-pasar tujuan ekspor nontradisional dan mengamankan pasar ekspor tradisional. Pasar ekspor nontradisional tersebut antara lain adalah negara di kawasan Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, Eurasia, serta Asia Selatan. "Kami membuka pasar baru, dan produk baru, selain juga mengamankan pasar ekspor yang sudah ada," kata Enggartiasto.[tar]

Dalam upaya untuk meningkatkan cadangan devisa negara, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa salah satu langkah yang diperlukan adalah dengan menekan volume impor. Jokowi ingin mengevaluasi untuk memisahkan antara impor strategis dan tidak strategis. "Impor barang konsumsi yang melalui Kementerian Perdagangan akan dikendalikan," kata Enggartiasto.

Pasar nontradisional seperti Amerika Serikat memang perlu untuk terus diamankan. Beberapa waktu lalu, Negeri Paman Sam itu menyatakan akan melakukan peninjauan kembali tentang pemberian fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) ke Indonesia.

Enggartiasto mengambil langkah dengan merangkul para importir asal AS dan menyatakan bahwa bahan baku buatan Indonesia, diperlukan untuk menunjang keberlangsungan bisnis mereka. Tanpa skema GSP, maka harga produk buatan AS, bisa semakin mahal harganya.

Sementara itu, salah satu peluang untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara nontradisional dan menambah devisa, adalah dengan peningkatan ekspor pesawat terbang. Salah satu negara tujuan ekspor nontradisional yang berminat untuk membeli pesawat dari Indonesia adalah Nigeria.

Hingga 2017 PT Dirgantara Indonesia, Tbk telah membuat sebanyak 431 unit pesawat terbang. Tipe yang paling banyak dipesan antara lain NC212i sebanyak 110 unit, helikopter NBO105 sebanyak 122 unit, dan saat ini sedang dikembangkan jenis CN 235, pesawat terbang kecil. [tar]

Komentar

x