Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 19 Oktober 2018 | 00:14 WIB

Indef: Dari 5 Industri Prioritas Hanya 1 Sehat

Rabu, 8 Agustus 2018 | 19:35 WIB

Berita Terkait

Indef: Dari 5 Industri Prioritas Hanya 1 Sehat
Peneliti Indef, Andry Satrio Nugroho - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Peneliti Indef, Andry Satrio Nugroho mencatat adanya lima industri prioritas yang tumbuh terbatas di triwulan II-2018.

Dalam konferensi pers di kantor Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Jakarta, Rabu (8/8/2018), Andry menjelaskan, dari lima industri prioritas itu, hanya industri tekstil dan pakaian jadi yang kenaikannya melesat. Empat lainnya cenderung stagnan, bahkan melambat alias nyungsep.

Kelima industri prioritas pemerintah yang dimaksud adalah makanan dan minuman (mamin), tekstil, farmasi, elektronik, dan otomotif. Harus diakui, kelimanya memberikan kontribusi besar terhadap sektor industri secara keseluruhan.

Andry mengatakan, industri farmasi dan elektronik, mengalami penurunan yang dalam. Ketergantungan dua industri ini terhadap impor masih tinggi sehingga depresiasi rupiah menyebabkan barang baku impor semakin mahal.

Ia mengatakan industri farmasi bergantung 90 persen terhadap bahan baku impor dari China dan India. "Ketika input dari produksinya semakin mahal, maka dia semakin mahal juga produk akhirnya. Tetapi pemikiran dari pengusaha adalah mereka tidak mau tidak ada marjin dari keuntungan, maka solusinya adalah `hold` produksi dan menjual secara terbatas," kata Andry.

Menaikkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di industri farmasi di tengah depresiasi rupiah yang sedang terjadi juga dinilai hanya akan memperlambat kinerja industri dan menghambat untuk ekspansi.

Andry menjelaskan bahwa laju pertumbuhan industri non-migas juga menunjukkan tren perlambatan. Selama tiga tahun terakhir, hanya pada triwulan III-2017 sektor tersebut tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi.

Laju pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi pada triwulan II-2018 tercatat 5,87% (year on year/yoy), atau menurun dibandingkan triwulan I-2018 yang mencapai 7,95% (yoy).

Menurut Andry, penurunan investasi tersebut menjadi indikator bahwa pelaku usaha tidak melakukan ekspansi bisnis dan cenderung menahan (hold) pada tahun ini. [tar]

Komentar

x