Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 17 Oktober 2018 | 13:33 WIB

Kepala BKP: Ini Tantangan Ketahanan Pangan Bangsa

Kamis, 9 Agustus 2018 | 18:28 WIB

Berita Terkait

Kepala BKP: Ini Tantangan Ketahanan Pangan Bangsa
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Ada beberapa tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia, salah satunya adalah peningkatan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 305 juta jiwa di 2035. Peningkatan jumlah penduduk selalu diiringi oleh peningkatan jumlah pangan.

"Kebutuhan konsumsi beras kita akan naik 19,6% dan jagung 20%, dan diikuti komoditas lainnya," ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi di hadapan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Fakultas Teknologi Pertanian pada Seminar Teknologi Pertanian Jabodetabek di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB Mektan) Serpong-Banten, Kamis (9/8/2018).

"Fokus kita saat ini bukan hanya feeding the world, tetapi juga bagaimana mencapai sasaran akhir pembangunan ketahanan pangan, yaitu terwujudnya Sumberdaya Manusia yang tangguh, sehat, aktif dan produktif," tambah Agung.

Kepala BKP juga memaparkan, Indonesia memiliki peluang dalam peningkatan produksi, apalagi sumberdaya lahan yang dimiliki Indonesia begitu besar. "Daratan kita lebih dari 190 juta hektar, 23% lahan basah dan 77% sisanya (145 juta) hektar adalah lahan kering. Ini bisa kita optimalisasi dengan sentuhan mekanisasi pertanian," kata Agung.

Agung juga menjelaskan, berbagai terobosan telah dilakukan Kementerian Pertanian untuk optimalisasi lahan dan peningkatan produksi, di antaranya peningkatan alat mesin pertanian di atas 2.000%, rehabilitasi irigasi meningkat 500%, serta lahan untuk benih unggul meningkat lebih besar dari 562%.

Namun di tengah-tengah upaya terobosan, masih menyisakan masalah, yaitu mekanisasi pertani masih terkendala jumlah SDM. "Lulusan mekanisasi pertanian dari Universitas Gadjah Mada sangat minim. Di BB Mektan (Balai Besar Mekanisasi Pertanian) ini ada 40 lulusan mekanisasi dari UGM tetapi ini masih kurang, sementara di Ditjen-ditjen lain juga kekurangan," jelas Agung.

"Bagaimana mungkin kita bisa melatih operator-operator di lapangan jika pelatihnya tidak ada? ini mohon menjadi cacatan kita bersama," tegas Agung.

Agung berharap mekanisasi pertanian kedepan bukan hanya membahas masalah optimalisasi alat, tetapi juga pengembangan teknologinya, sehingga industri Agro kedepan semakin mendunia.

Pada bagian lain Agung menjelaskan, Industri agro saat ini masih didominasi sawit. Namun bio-industri berbasis biomassa juga sudah kembangkan dengan fokus pada empat komoditas, yaitu Jagung di Gorontalo, Sulteng, NTT. Sagu di Riau, Maluku, Sulsel, Papua dan Papua Barat. Ubi Kayu di Lampung, Jabar dan Jatim, dan Pisang di Sumut, Lampung dan Jateng.

Dalam Seminar ini, Agung mengajak wakil dekan III FTP UGM dan seluruh Alumni Teknologi Pangan UGM mengembangkan alat-alat mesin pertanian dengan secara mandiri dan mengandalkan generasi muda. "Saya yakin kita mampu melakukan itu bersama," kata Agung. [*]

Komentar

x