Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 15:52 WIB

9 Jurus Perry Sedot Devisa Jumbo dari Pariwisata

Kamis, 30 Agustus 2018 | 17:09 WIB

Berita Terkait

9 Jurus Perry Sedot Devisa Jumbo dari Pariwisata
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Yogyakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan strategi pariwisata untuk menjaring devisa US$28 miliar pada 2024.

Angka sebesar itu sudah menjadi kesepakatan antara pemerintah pusat dan daerah, bersama BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Pada 2024 kami arahkan jumlah wisatawan mancanegara minimal 25 juta orang dengan devisa 28 miliar dolar AS," kata Perry di Yogyakarta, Rabu (29/8/2018).

Perry menambahkan, tahun depan, perolehan devisa dari sektor pariwisata ditargetkan bisa menyentuh US$17,6 miliar. Atau naik dari pencapaian 2017 sebesar US$14 miliar. Dengan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) minimal 20 juta orang.

Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor guna percepatan pengembangan pariwisata yang mendorong pertumbuhan devisa.
"Pariwisata adalah penyumbang devisa ketiga setelah kelapa sawit dan batu bara. Dengan menyumbang devisa maka secara langsung bisa mengurangi defisit transaksi berjalan," kata Perry.

Oleh sebab itu, melalui hasil Rakorpusda dengan tema "Memperkuat Sinergi dalam Akselerasi Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas" itu, menurut dia, pemerintah pusat, pemerintah daerah, bersama BI dan OJK telah menyepakati sembilan strategi pengembangan pariwsata.

Ia menyebutkan, pertama, peningkatan aksesibilitas, keragaman atraksi pariwsata, serta kualitas amenitas yang didukung oleh penguatan promosi, dan peningkatan kapasitas pelaku pariwisata terutama untuk destinasi wisata prioritas seperti Danau Toba, Borobudur-Joglosemar (Jogjakarta-Solo-Semarang), Mandalika, Labuan Bajo, Bali, Jakarta, Banyuwangi, Bromo, dan Kepulauan Riau.

Kedua, penguatan data dan informasi pariwisata melalui penetapan nomenklatur klasifikasi jenis usaha yang termasuk dalam bidang pariwisata sebagai dasar perumusan kebijakan, serta peningkatan kualitas survei profil wisatawan mancanegara untuk mengetahui pola perjalanan, pengeluaran dan umpan balik dari hasil kunjungan ke destinasi wisata.

Ketiga, peningkatan akses pembiayaan bagi kegiatan usaha di sektor pariwisata melalui penetapan ketentuan umum penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk usaha pariwisata yang didukung sosialisasi mekanisme penyalurannya.

Keempat, penerapan intensifikasi layanan sistem pembayaran dan ekonomi digital serta ekosistemnya di semua destinasi wisata, dengan Bali sebagai champion programme, pada saat penyelenggaraan IMF-World Bank Annual Meeting 2018.

Kelima, penguatan sinergi promosi destinasi pariwisata antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan BI. Keenam, penguatan akses/konektivitas darat dan udara menuju destinasi wisata, di antaranya melalui percepatan operasional New Yogyakarta International Airport (NYIA) serta pembangunan jalur kereta api bandara NYIA ke pusat kota Yogyakarta.

Ketujuh, pengembangan atraksi yang terintegrasi di destinasi wisata, antara lain paket wisata Borobudur-Joglosemar, dan paket wisata Bali-Banyuwangi. Kedelapan, peningkatan amenitas di destinasi wisata, yang antara lain melalui peningkatan manajemen penanganan sampah dan limbah, serta penyedian fasilitas air bersih pada wilayah-wilayah destinasi wisata.

Kesembilan, peningkatan kualitas SDM dan usaha pariwisata melalui pendidikan vokasi kepada pekerja di sektor pariwisata. Rapat Koordinasi yang diinisiasi oleh Gubernur BI dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan itu dihadiri oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan HB X selaku tuan rumah, serta sejumlah Kepala Daerah dan Perwakilan Kepala Daerah dari Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. [tar]

Komentar

x