Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 15:50 WIB

Aturan B20 Sasar Sektor Ini

Oleh : M Fadil Djaelani | Sabtu, 1 September 2018 | 16:17 WIB

Berita Terkait

Aturan B20 Sasar Sektor Ini
Menko Perekonomian Darmin Nasution - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Salah satu penyebab besarnya defisit neraca perdagangan hingga US$1,1 miliar adalah tingginya impor migas yang mencapai lebih dari US$5 miliar. Defisit ini, konon khabarnya ikut melemahkan nilai tukar rupiah.

Lantaran itulah, tim ekonomi Joko Widodo yang dikomandani Menko Perekonomian Darmin Nasution mendorong pembatasan impor migas dengan memberlakukan pencampuran biodiesel B20 per hari ini (Sabtu, 1/9/2018).

Sasarannya adalah sektor yang masih belum optimal terutama di sektor transportasi non public service obligation (PSO), industri, pertambangan, dan kelistrikan. Dengan demikian, diharapkan tidak akan ada lagi peredaran solar tanpa pencampuran biodiesel (B-0).

"Kewajiban pencampuran bahan bakar solar dengan B20 telah dimulai tahun 2016, namun penerapannya belum optimal. Maka, acara ini diharapkan menjadi titik tolak pemanfaatan biodiesel 20% di semua sektor secara menyeluruh," ujar Darmin dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (1/9/2018).

Melalui optimalisasi dan perluasan pemanfaatan B20 ini, diperkirakan bisa menghemat devisa hingga US$2 miliar di 2018 yang terssisa empat bulan lagi. Penghematan ini diharapkan memberi dampak positif terhadap perekonomian nasional.

Adapun mekanisme pencampuran B20 akan melibatkan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU-BBM) yang menyediakan solar, dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU-BBN) yang memasok FAME (Fatty Acid Methyl Esters) yang bersumber dari CPO (Crude Palm Oil).

Darmin menegaskan, sejak 1 September 2018, tidak akan ada lagi produk B0 di pasaran, dan keseluruhannya berganti dengan B20. Apabila Badan Usaha BBM tidak melakukan pencampuran, dan Badan Usaha BBN, tidak dapat memberikan suplai FAME (Fatty Acid Methyl Ester) ke BU-BBM, bakal dikenakan denda yang cukup berat, yaitu Rp6.000 per liter. Produk B0 nantinya hanya untuk Pertadex, atau diesel premium.

Beberapa pengecualian dapat diberlakukan terutama terhadap Pembangkit Listrik yang menggunakan turbine aeroderivative, alat utama sistem senjata (alutsista), serta perusahaan tambang Freeport yang berlokasi di ketinggian. Terhadap pengecualian tersebut digunakan B0 setara Pertadex.

Pemerintah juga akan terus mengupayakan perbaikan teknologi, infrastruktur, serta penerapan SNI (Standar Nasional Indonesia) produk biodiesel. Selain itu, dalam rangka menunjang pelaksanaan B20, BPDP KS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) telah memperkenalkan Call Center 14036, yang memberikan layanan Customer Care terhadap penggunaan B20 sehingga apabila terdapat keluhan B20 maka dapat disampaikan ke nomor tersebut. [ipe]

Komentar

x