Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 04:13 WIB

Politik Boleh Gaduh, Ekonomi Harus Tetap Terjaga

Oleh : Herdi sahrasad | Senin, 3 September 2018 | 04:09 WIB

Berita Terkait

Politik Boleh Gaduh, Ekonomi Harus Tetap Terjaga
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Semua merasakan, dinamika politik dan ekonomi memasuki era ketegangan. Khusus dunia usaha dan civil society mencium gelagat tak sedap. Indonesia di ambang krisis ekonomi?

Kini, sebagian intelektual dan analis ekonomi, relative kritis terhadap cara pemerintah mengelola makro-ekonomi yang sangat konservatif dan bercorak neoliberalisme. Di mana, ciri khasnya neolib adalah hanya mengandalkan program austerity (pengetatan) di tengah kontraksi pajak dan kontraksi ekonomi. Padahal, konsep ini terbukti gagal di seluruh dunia. Baik di Amerika Latin ataupun Yunani dan negara di Eropa lainnya.

Akibat ekonomi konservatif serta neolib, berbagai indikator menunjukkan angka negatif. Pun demikian, kebijakan austerity semakin menyulitkan ekonomi rakyat, sejak pertengahan 2016. Di mana, ekonomi Indonesia terus stagnan. Kondisi ini bisa bertambah buruk hingga akhir tahun, apabila tim ekonomi pilihan Presiden Joko Widodo tidak berhati-hati. Perlu dicatat, pertumbuhan ekonomi sejak 2016 hingga 2018, tak beranjak dari angka 5%.

Kekhawatiran akan 'nyungsepnya' ekonomi Indinesia, ditandai terus melemahnya nilai tukar rupiah serta daya beli rakyat. Celakanya, para menteri bidang ekonomi di Kabinet Kerja, terlanjur sibuk membantah dan mencari kambing hitam. Bahkan terus saja menggaungkan bahwa perekonomian Indonesia masih sehat, tidak ada masalah, prudent dan sebagainya.

Sekedar ilustrasi, aliran modal yang keluar dari Indonesia sejak awal 2018 hingga 30 Juli 2018, sudah mencapai Rp48,9 triliun. Cadangan devisa sejak awal tahun hingga sekarang, terkuras Rp150 triliun. Sementara posisi nilai tukar rupiah terhadap US$ terus melemah hingga Rp14.700 di perdagangan akhir pekan ini. Sementara, indeks saham sempat anjlok meski perlahan mendaki lagi.

Ketika ekonom senior Rizal Ramli bertemu para fund managers di New York pada bulan lalu, ada yang mengejutkan. Para fund manager kelas ecek-ecek saja, paling sedikit menggenggam dana US$160 miliar. Sementara fund manager kakap, memegang dana hingga US$1,5 triliun.

Kepada RR, sapaan akrab Rizal Ramli, para fund manager itu mengatakan sudah tidak mau lagi membeli corporate bond dari Indonesia. Lho? Jelas ini masalah serius.

Rizal menganalogikan perrekonomian Indonesia sebagai tubuh manusia. Kini, badannya dijangkiti sejumlah penyakit. Karena anti-body-nya lemah. Setiap ada virus yang masuk menambah daftar panjang penyakit yang diderita.

Semisal, neraca perdagangan selama semester I-2018, mengalami defisit US$1,05 miliar. Walhasil, neraca transaksi berjalan sepanjang 2018, menurut Bank Indonesia (BI), diproyeksikan bakal mengalami defisit hingga US$25 miliar. (Data Kuartal I-2018 terjadi defisit US$5,5 miliar). Sedangkan neraca pembayaran kuartal I-2018, mengalami defisit US$3,9 miliar. Keseimbangan primer selama 2018 juga defisit US$6,2 miliar, menurut data Kementrian Keuangan.

Untuk sektor ekonomi, era Jokowi secara umum mengalami kemandekan. Dalam berbagai kesempatan, para menteri menyiarkan sukses pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan udara, pelabuhan laut, kebijakan satu harga dan penyelenggaraan Asian Games 2018. Namun, dalam perspektif ekonomi secara umum, pemerintah Jokowi boleh dibilang telah mengalami keletihan, kegagalan dan kemandekan.

Daya beli merosot, pengangguran masih banyak. Risiko ekonomi secara makro juga semakin tinggi akibat pengelolaan yang tidak prudent (hati-hati). Kondisi inilah yang menjelaskan kenapa rupiah terus merosot dan terjadi capital outflow," kata Rizal yang juga mantan Menko Ekonomi di era Presiden Gus Dur itu.

Sejauh ini, tim ekonomi Jokowi belum memiliki gagasan yang brilian dalam menyelesaikan berbagai tantangan ekonomi. Bahkan disebutkan tim ekonomi Jokowi defisit gagasan akibat keterbatasan intelektualitas.

Masalah lain adalah pengangguran. Suka atau tidak, buruh China membanjiri Indonesia. Kondii ini bisa melahirkan ketegangan-ketegangan baru dengan kaum pekerja di Indonesia. Alhasil, pemerintah selalu menjadi sasaran kritik publik.

Di tengah ketegangan politik dan kelesuan ekonomi, pemilu 2019 menjadi rentan dan rawan gesekan arus massa dari masing-masing kubu. Sehingga, gerakan civil society menjadi tulang punggung untuk melerai dan mendinginkan suasana. Namun, kalau rupiah terus melemah dan ekonomi terus terjadi stagnasi, maka potensi konflik dan gesekan massa bisa semakin menjulang. Kewaspadaan masyarakat dan negara menjadi sangat krusial. [ipe]

Komentar

x