Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 15:47 WIB

Jaga Neraca Perdagangan

Damin Perintahkan 3 Menteri Bikin Catatan Ekspor

Selasa, 4 September 2018 | 13:55 WIB

Berita Terkait

Damin Perintahkan 3 Menteri Bikin Catatan Ekspor
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah merinci daftar komoditas ekspor yang mampu ditingkatkan guna mengurangi defisit transaksi berjalan yang sempat melebar di triwulan II-2018. Namun ini solusi jangka pendek.

Menko Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (4/9/2018), mengatakan, rincian daftar komoditas beserta tujuan ekspor, diharapkan bisa rampung dalam dua hari ke depan. "Ada penugasan ke Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri ESDM untuk membuat rincian dari rencana peningkatan ekspor dengan matriks komoditasnya apa, tujuan ke mana, dan sebagainya. Diberi waktu dua hari," kata mantan gubernur Bank Indonesia tersebut.

Darmin mengungkapkan beberapa komoditas yang potensial untuk masuk dalam daftar tersebut antara lain batubara, hasil perkebunan, dan beberapa yang menyangkut industri manufaktur.

Upaya mendorong ekspor itu, lanjut dia, tetap harus mempertimbangkan kondisi perdagangan global yang masih belum pasti. Darmin mengatakan perlambatan ekspor saat ini hanya terjadi untuk tujuan Amerika.

"Kami identifikasi satu per satu, itu akan diumumkan sebagai langkah (peningkatan ekspor) yang akan dilakukan dalam jangka pendek," kata dia.

Pemerintah juga berupaya menekan impor sebagai salah satu langkah mengurangi defisit transaksi berjalan. Terkait hal tersebut, Darmin mengatakan bahwa isu yang dibahas antara lain menyangkut pajak penghasilan (pph) impor dan serapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Terkait TKDN, sektor yang dibahas terutama menyangkut proyek kelistrikan karena termasuk yang paling tinggi konten impornya. Konten impor untuk proyek jalan dan jembatan, menurut Darmin, tidak terlalu tinggi.

Sebelumnya, defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2018 mencapai US$8 miliar, atau 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar US$5,7 miliar, atau 2,2% terhadap PDB.

Sementara, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi (4/9/2018) stagnan di level Rp14.810 per US$. Mata uang Garuda cenderung rentan terdepresiasi. [tar]

Komentar

x