Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 21 November 2018 | 20:09 WIB

Rupiah Lemah, Asing dan Jokowi

Oleh : Herdi Sahrassad | Sabtu, 8 September 2018 | 04:29 WIB

Berita Terkait

Rupiah Lemah, Asing dan Jokowi
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Berbagai kalangan khawatir dan cemas dengan merosotnya nilai rupiah. Dikhawatirkan menghantam dunia usaha dan perbankan.

Namun, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso memastikan sampai saat ini, perbankan masih dalam kondisi aman di tengah pelemahan rupiah dan indeks saham. Apa yang terjadi?

WImboh menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berikut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir merupakan kondisi yang masih wajar. Mengingat Indonesia terbiasa volatile.

Dia berhujah, strategi yang paling tepat saat ini, adalah memperkuat koordinasi antar-pemangku kepentingan, sebagaimana arahan yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

Wimboh berpendapat, komunikasi publik merupakan hal nomor satu dan paling penting di samping juga upaya untuk mendorong ekspor, meningkatkan ekspor. Mampukah rezim Jokowi?.

Persoalannya adalah ada sejumlah penyebab dari merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dewasa ini. Ini soal ekonomi dan non-ekonomi.

Ada campur tangan asing yang sengaja melemahkan Indonesia karena pemerintahan Jokowi sangat lemah.

Ekonom senior yang juga mantan Menko Ekuin dan kepala Bappenas, Kwik Kian Gie memaparkan analisanya.

Kwik mengungkapkan, sejak 1970 hingga hari ini, dolar Singapura yang tadinya 1 dolar AS setara dengan 3 dollar Singapura, sekarang menguat menjadi 1,3 dolar Singapura. Mengalami penguatan hingga 57%.

Sementara, lanjut Kwik, untuk Malaysia yang tadinya 1 dollar AS setara 3 ringgit, sekarang berubah menjadi 3,93 ringgit. Yang artinya mengalami depresiasi 31%. Thailand dengan mata uangnya bath, tadinya 1 dolar AS setara 21 bath merosot menjadi 31,86 baht pada 2018. Terjadi depresiasi 52%.

Sedangkan Filipina dari 1 dolar AS setara 6 peso, kini menjadi 51,9 peso. Artinya, mengalami depresiasi hingga 756%.

Dan, Indonesia dari 1 dolar AS setara Rp363 pada 1970. Saat ini menjadi Rp14.000 per dolar AS. Artinya, depresiasi berlipat-lipat yakni 3.757%. Setelah 40 tahun lebih menganut neoliberalisme ekonomi.

Kalau sepanjang 48 tahun seperti ini, mengapa rupiah tidak turun lagi?

Ini jelas bukan hanya masalah ekonomi dan non-ekonomi. Indonesia yang bangsanya juga lembek ini ternyata terus direkayasa kekuatan asing agar terus terpuruk dan menjadi bangsa yang lemah dan tergantung

Kwik menilai, salah satu faktor penyebab merosotnya nilai tukar rupiah bukanya hanya persoalan ekonomi. Namun ada campur tangan asing. Lho?

"Karena yang saya pelajari, selama saya menjabat di pemerintahan adalah Indonesia sendiri memang direkayasa oleh kekuataan asing untuk menjadi bangkrut dan terpuruk," ungkap Kwik, Jumat (18/5/2018).

Dari data Kwik tentang nilai tukar mata uang negara-negara di ASEAN dengan dolar AS sejak 1970 hingga 2018, terkuak sejumlah fakta. Bahwa, ada beberapa negara yang memang mengalami penguatan mata uangnya terhadap dolar AS. Namun, ada juga yang mengalami penurunan seperti terurai di atas.

Sekali lagi, kalau sepanjang 48 tahun seperti ini, mengapa Rupiah tidak turun lagi? Ini jelas bukan hanya masalah ekonomi dan non-ekonomi.

Kuat dugaan adanya rekayasa asing agar mata uang kebanggan rakyat Indonesia, terus terpuruk. Sehingga, bangsa Indonesia menjadi lemah dan terus terperangkap dalam jebakan utang luar negeri. "Kecuali ada pemimpin nasional yang sangat kuat dan mengerti persoalan bangsa dan membalikan itu," kata Kwik.

Masalah serius lainnya adalah Indonesia bakal kesulitan menjelma menjadi negara berpendapatan tinggi (higher income), atau negara maju pada 2030. Karena, pendapatan per kapita Indonesia masih belum memadai.

Hal itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo dalam sebuah diskusi publik di Jakarta. Dia mengatakan, adalah mission impossible untuk Indonesia menjadi negara maju. Pandangan Perry bersandar kepada proyeksi BI yang memakai pendekatan supply side.

Bila pertumbuhan ekonomi nasional, rata-rata sebesar 5,6% maka Indonesia diprediksi bisa naik level. Dengan pendapatan per kapita di atas US$10 ribu pada 2045.

Sementara pada 2017, pendapatan per kapita Indonesia baru US$3.876. Indonesia bisa naik level lebih cepat jika pertumbuhan ekonomi lebih tinggi yaitu 6,4%. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi RI hanya 5%. Tak mampu menembus angka 6,4% atau lebih. Untuk tumbuh 5% saja harus ditopang dengan utang dan utang lagi.

Jadi, masuk akal apabila Perry memproyeksikan pesimis bahwa Indonesia bisa naik kelas dari negara berpendapatan menengah (middle income) ke berpendapatan tinggi (higher income). Atau menjelma menjadi negara maju di 2030. Sebab, ya itu tadi, pendapatan per kapita Indonesia masih belum memadai dan pertumbuhan ekonominya masih kontet.

Namun, bukan berarti pintu sudah tertutup. Penguasa dan para pembantunya harus bekerja lebih keras dan cerdas. Kontribusi sumber daya manusia terhadap perekonomian dan rasio investasi riil, wajib ditingkatkan. Jangan khawatir, masih ada waktu dan kesempatan, Pak Jokowi... [ipe]


Komentar

Embed Widget
x