Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 04:13 WIB

Fundamental Ekonomi Kuat, Anwar: Omong Kosong Itu

Oleh : M Fadil Djaelani | Sabtu, 8 September 2018 | 14:20 WIB

Berita Terkait

Fundamental Ekonomi Kuat, Anwar: Omong Kosong Itu
Ekonom senior Prof Anwar Nasution - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom senior Prof Anwar Nasution membantah statement pemerintah yang menyebut fundamental ekonomi Indonesia kuat dalam menghadapi krisis.

Kata mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) ini, fundamental ekonomi Indonesia justru masih rapuh alias tak begitu kuat dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Di mana, nilai tukar rupiah jeblok mendekati Rp15.000 per US$.

"Fundamental ekonomi kita itu lemah sekali, lemah sekali, bohong itu pemerintah yang sebut fundamental Indonesia ekonomi kita kuat, omong kosong itu," kata Anwar dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (8/9/2018).

Menurutnya fundamental ekonomi yang tak kuat tersebut tercermin dari pertumbuhan rasio pajak yang terbilang rendah diangka 10%, padahal jika dibandingkan negera-negara berkembang yang lain pertumbuhan rasio pajak sekitar 20%.

"Ini kan berarti hampir setengahnya, dinegara lain rasio pajak atau tax ratio itu capai 20% kita hanya 10%, ini yang sebabkan Menteri Keuangan (Sri Mulyani) ke luar negeri melulu pinjam sana sini minta sedekah," katanya.

Maka dari itu, mantan Ketua BPK ini menyebut inti permasalahan ekonomi Indonesia ada disitu, menurutnya ini yang harus segera di selesaikan.

"Ini intinya pinjam untuk nutup defisit APBN, nutup pembayaran utang luar negeri, kita sudah 73 tahun merdeka masih terus pinjam," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku fundamental makroekonomi masih lemah seiring melebarnya defisit transaksi berjalan. Bahkan, menjadi titik lemah Indonesia yang selalu dilihat pelaku pasar.

Anwar yang terkenal lantaran menyebut BI sarang penyamun ini, mengatakan, selama ini, pemerintah tak pernah puas dengan posisi fundamental makroekonomi Indonesia. Terlebih tekanan global semakin kencang. Pemerintah cenderung fokus memperbaiki titik lemah saat ini, yakni defisit transaksi berjalan.

Data BI per kuartal II-2018 menunjukkan, transaksi berjalan mengalami defisit mencapai US$8 miliar atau setara 3% terhadap Produk Domestik bruto (PDB). Ini merupakan defisit terdalam sejak kuartal II 2014 yang saat itu 4,3% terhadap PDB. [ipe]


Komentar

x