Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 04:19 WIB

Dinilai tak Beritikad Baik

Mitra Driver Desak Pemerintah Cabut Izin Grab

Rabu, 12 September 2018 | 00:15 WIB

Berita Terkait

Mitra Driver Desak Pemerintah Cabut Izin Grab
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Sikap cuek Grab Indonesia memicu amarah Komunitas mitra pengemudi taksi dan ojek online yang tergabung dalam aksi Gerakan Hantam Aplikator Nakal (Gerhana).

Aspirasi yang tidak tersampaikan itu membuat para mitra mengeluarkan ancaman mengusir aplikator asal Malaysia tersebut keluar dari Indonesia.

Humas Aksi, Dedi Hariyonti, meminta pemerintah mengusir dan menutup GRAB karena sejauh ini dianggap sekadar janji. Tidak memenuhi permintaan para mitra terkait kesejahteraan karena faktanya penetapan tarif masih rendah.

"Kami meminta pemerintah hadirkan aplikator yang professional, adil, transparan dan menyejahterakan semua pihak!" pintanya.

Aksi demonstrasi Gerhana yang berlangsung di kantor GRAB, Lippo Kuningan, hingga Senin (10 September 2018) petang sempat tegang. Sebab keinginan para mitra untuk bertemu Managing Director GRAB, Ridzki Kramadibrata, tidak terlaksana.

"GRAB tidak beritikad baik. Kami meminta pemerintah mencabut izin GRAB dan mengusir GRAB dari Indonesia," ucap Penanggung Jawab Aksi, Christiansen alias Yansen Wage, Selasa (11/9/2018).

Sempat dibantu pihak kepolisian agar membujuk Ridzki keluar dari ruangan dan menemui para peserta aksi. Namun juga tidak berhasil. "Bahkan anggota polisi mencari Ridzki hingga ke ruangannya. Kami menyesali Ridzki yang tidak menunjukkan sikap ksatria, dia itu pengecut," sesalnya.

Menurut Yansen, manajemen GRAB seringkali melakukan kebijakan sepihak yang merugikan mitra pengemudi. Misanya memberikan hukuman kepada mitra pengemudi berdasarkan peraturan perusahaan yang sepihak tanpa mengutamakan proses dialog.

Yansen mengungkapkan pihaknya membawa empat poin untuk disampaikan kepada manajemen GRAB. Menagih janji terkait kesejahteraan, menolak aplikator menjadi perusahaan transportasi, menolak eksploitasi terhadap ojek online, dan menolak keras kartelisasi serta monopoli bisnis transportasi online.

"Yang menemui kami adalah staf legal GRAB, kami menolak. Seharusnya Ridzki yang menemui kami. Ridzki tidak berjiwa besar, dia pengecut karena selalu menghindar setiap kali kami ingin menyampaikan aspirasi," ujar Yansen.

Dia menyebut aspirasi pengemudi transportasi online di 18 provinsi kepada kantor daerah GRAB di daerah juga seringkali tidak menghasilkan keputusan. "Karena kantor daerah GRAB selalu mengatakan keputusan final di kantor pusat. Makanya kami berdemonstrasi di kantor GRAB pusat," ungkapnya.

Berbagai permasalahan menerpa pengemudi GRAB di daerah. Kantor Grab di Kompleks CBD Polonia, Medan, misalnya, pernah didemonstrasi oleh ratusan mitra GRAB BIKE pada Maret 2018.

Para mitra pengemudi memerotes manajemen yang tidak kunjung membayarkan promo dan insentif serta memerotes kebijakan yang dinilai semakin memberatkan. [jin]

Komentar

x